Tingginya Angka Bunuh Diri Pelajar di Korea, Jepang, dan Tiongkok


Ilustrasi


Masa remaja seharusnya menjadi masa yang menggembirakan. Namun kegembiraan masa remaja tidak banyak berlaku bagi remaja di negara Korea, Tiongkok, dan Jepang


Umur setara SD sampai SMA banyak mereka habiskan di bangku sekolah dan les setelah sekolah. Sebenarnya akhir-akhir ini banyak orang tua mulai memasukkan anaknya ke bermacam-macam tempat les mulai umur 4 tahun. 


Tidak semata-mata bertujuan untuk mendidik anaknya sedini mungkin dalam bidang bahasa asing, musik, ataupun olahraga. Gengsi keluarga juga dapat diamati dengan jelas, yang mana setiap orang tua akan membicarakan dan membanggakan anaknya yang masuk di berbagai macam les.


Kebiasaan berkompetisi dalam dunia pendidikan bagi mereka telah terbentuk sejak dini. Menghasilkan para petarung nilai unggul di dalam setiap pelajarannya. Dari pagi sampai malam betah dan tak beranjak dari meja belajar. Dari pagi sebelum perpustakaan buka sudah mengantri, mengular seperti antri pada penjualan perdana hape seri terbaru. Kemudian pulang tepat pada waktu malam sebelum perpustakaan ditutup. 


Sepertinya terasa berlebihan, namun memang benar adanya. Nilai 80 kadang-kadang dirasa kurang memuaskan sehingga menjadikan mereka menangis kecewa, stres, dan depresi. Tekanan selama di bangku sekolah benar-benar terasa besar. Bagi mereka yang tidak kuat menerima tekanan, hasil belajar, dan penyebab lainnya dapat mengarah ke keinginan untuk bunuh diri. 


Berita bunuh diri memang sudah tidak asing bagi negara Korea, Jepang, dan Tiongkok. Namun angka bunuh diri terkini pada umur remaja di ketiga negara ini tetap tinggi, bahkan kecenderungan umur pelaku semakin muda.


Bunuh diri menempati peringkat pertama penyebab kematian remaja di Korea Selatan. Pada tahun  2018 terdapat 451 pelajar bunuh diri, menempati rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari 451 siswa yang mencoba bunuh diri tahun lalu, 47 % atau 213 siswa berada di sekolah menengah. 


Namun, ada peningkatan jumlah siswa sekolah dasar. Yang paling menonjol dalam tingkat bunuh diri baru-baru ini adalah bahwa kelompok usia telah menjadi lebih muda, sampai pada tingkat Sekolah Dasar. Artikel penelitian yang dipublikasikan tahun 2017 menunjukkan bahwa terdapat 19 anak SD dari 2011 sampai 2015 melakukan bunuh diri.


Pada 2017 terdapat laporan yang menunjukkan bahwa 37,2 % anak muda mengatakan mereka menderita stres karena beban sekolah dan kerja. Pada usia sekolah antara 10-19 tahun mereka dapat menghabiskan waktu lebih dari 12 jam sehari untuk belajar di sekolah dan les tambahan. Semua usaha tersebut adalah untuk mengejar impian serta gengsi keluarga untuk masuk 3 besar universitas terbaik.  


Angka bunuh diri Jepang juga tidak kalah mencengangkan di survei antara tahun 2016-2017. Pada kurun waktu tersebut terdapat 250 anak dan remaja bunuh diri. Usia SMA adalah yang terbanyak dalam angka tersebut. Selain itu, lagi-lagi terdapat usia anak SD. Penyebab utama dari bunuh diri tersebut antara lain:  perundungan, masalah keluarga, dan stres.


Tiongkok merupakan salah satu negara dengan angka bunuh diri yang tertinggi di dunia. Setiap 2 menit terdapat satu orang yang ingin mencoba bunuh diri. Angka kematian akibat bunuh diri per 100.000 orang adalah 22,23 orang. 

Sekitar 287.000 dari 1,3 milyar orang bunuh diri setiap tahunnya dengan rentang umur terbesar antara 15 sampai 34. Stres karena tekanan dari sekolah dan pekerjaan menjadi penyebab utama peristiwa bunuh diri. Selain itu, angka bunuh diri semakin meningkat sejak reformasi pintu terbuka dan perekomian yang meningkat.


Kebanyakan metode bunuh diri yang dilakukan adalah terjun dari ketinggian, yaitu dari gedung dan jembatan. Dalam banyak video amatir, para pelaku melamun sebelum mengeksekusi dirinya sendiri. Di Tiongkok sepertinya kelakuan tersebut ini sudah menjadi kesadaran yang akan diperhatikan untuk segera dilakukan tindakan penyelamatan. 

Selanjutnya dengan metode gantung diri sangat banyak digunakan. Di Korea terdapat cara bunuh diri lainnya, yaitu menenggak pestisida ataupun juga dengan cara menghirup bakaran briket batu bara.


Setelah melewati masa remaja atau setelah memasuki universitas, tekanan semakin berkurang, namun tidak terlalu berarti. Kebiasaan belajar yang ekstrim tetap terlihat di universitas-universitas terkemuka. 


Pada masa ini mereka mulai sedikit lega menikmati kegembiraan masa remaja yang seringkali dilakukan secara berlebihan. Masa untuk menikmati kegembiraan akan cepat berlalu dan mereka mulai terjun ke dunia kerja. Tekanan di dunia kerja tidak kalah besarnya dibandingkan di bangku sekolah, dan kasus bunuh diri kembali menggema.


#SosialMasyarakatTiongkok #PendidikanTiongkok #BunuhdiridiTiongkok #ArtikelChina #ArtikelTiongkok