Semakin Menua

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto


ilustrasi


养儿防老

“orang tua membesarkan anak untuk merawatnya di hari tua.”

Pada pagi hari di sebuah taman belakang komplek apartemen seringkali kulihat banyak lansia beraktivitas. Berjalan menuntun serta anjingnya, duduk di bangku mengobrol bersama, bermain mahyong, melakukan senam tai chi, berjalan mundur yang dipercaya lebih meningkatkan kebugaran, menulis kaligrafi di tanah dengan menggunakan kayu atau kuas air, dan berbagai aktivitas yang membuat suasana pagi terasa riuh-rendah. Bahkan pada akhir pekan di suatu taman akan semakin banyak lansia yang menghabiskan harinya memainkan instrumen klasik, menyanyi, dan melakukan berbagai macam olahraga ringan.


Para lansia memang seringkali terlihat di sekeliling komplek daripada anak muda atau pekerja. Bukan hanya yang berusia produktif sibuk bekerja di luar atau lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor, namun jumlah lansia yang semakin meningkat pesat adalah kondisi sebenarnya. Apa yang dialami Tiongkok tidak jauh berbeda dengan Jepang dan Korea, penuaan populasi benar-benar pada status yang mengkhawatirkan. Penjualan popok lansia di Jepang sudah mengungguli penjualan popok anak. Keadaan ini akan segera disusul Tiongkok bila perencanaan meningkatkan kelahiran tak direspon serius oleh masyarakat. Laju penuaan populasi saat ini lebih cepat daripada negara-negara maju lainnya. Peningkatan perawatan kesehatan telah berkontribusi pada peningkatan usia harapan hidup dari 67 menjadi 75 tahun. Namun sebaliknya, tingkat kelahiran mengalami penurunan yang drastis yaitu hanya 1,7 anak per wanita.


Populasi Tiongkok akan mencapai puncaknya pada angka 1,44 miliar tahun 2029 sebelum memasuki penurunan yang tak terhentikan. Negara ini akan memasuki era pertumbuhan populasi negatif sebagaimana rasio usia muda akan secara drastis tidak seimbang dengan meningkatnya jumlah lansia. Hingga pada tahun 2050 sebanyak 487 juta orang akan berusia di atas 60 tahun atau sepertiga dari populasi. Keadaan yang menggembirakan bagi pemilik properti di daerah tujuan para pensiunan, seperti di pulau Hainan yang beriklim hangat sepanjang tahun, pasir putih serta birunya laut yang membentang. Di sisi lain adalah berita buruk bagi pertumbuhan ekonomi karena kurangnya konsumsi domestik serta kurangnya pekerja yang diisi oleh usia produktif. Stagnasi pertumbuhan ekonomi yang telah berlangsung diperkirakan akan menjadi perlambatan.


Penyebab utama yang terlihat jelas dari menuanya populasi saat ini adalah kebijakan satu anak selama 36 tahun, kebijakan yang juga merupakan eksperimen sosial terbesar dalam sejarah. Kebijakan ini diperkenalkan pada tahun 1979 untuk mengurangi pertumbuhan dan jumlah populasi sekaligus mengurangi kemiskinan. Kebijakan itu sukses menekan jumlah kelahiran yang diperkirakan hingga mencapai 400 juta sejak mulai dijalankan. Praktik pemaksaan aborsi dan sterilisasi memang umum pada saat itu. Orang tua yang tidak dapat membayar denda untuk anak kedua dipaksa untuk aborsi.


Ada satu cerita tentang pasangan yang tak ingin mengaborsi anaknya memutuskan untuk membuangnya. Sang bayi ditemukan kemudian dirawat panti asuhan hingga akhirnya diadobsi oleh pasangan Amerika. Dua puluh tahun kemudian sang anak dari Amerika mengunjungi orang tuanya di Tiongkok melalui surat yang ditinggalkan saat ia dibuang. Orang tuanya menangis menyesal karena telah membuangnya. Saat itu mereka tidak punya pilihan lain karena tidak ingin membayar denda dan tidak ingin mengaborsinya.


Meskipun pemerintah akhirnya meniadakan kebijakan pada 2016 karena dianggap menghambat pertumbuhan populasi dan mulai mendorong pasangan memiliki dua anak, namun sejauh ini perubahan tersebut tidak efektif dalam meningkatkan angka kelahiran. Total jumlah kelahiran turun menjadi 15,2 juta pada tahun 2018  atau hanya 1,6 anak per wanita. Sepertinya Tiongkok telah terlambat untuk mencegah datangnya penuaan populasi, apalagi diperburuk oleh "jebakan pendapatan menengah" di mana ekonomi yang berkembang pesat selama hampir 3 dekade itu mengalami stagnasi. Kini mereka dalam keadaan yang mana banyak kelas menengah memiliki satu bayi atau tak memiliki satu pun. Banyak perempuan Tiongkok kini lebih memprioritaskan karier, kehidupan yang stabil, atau rumah tangga tanpa memiliki anak, terutama ketika biaya hidup dan pendidikan anak melambung tinggi.


Keadaan lain yang memperparah adalah jumlah pernikahan menurun dan jumlah perceraian meningkat setiap tahunnya. Generasi milenial dan generasi Z telah memiliki pola pikir yang berbeda daripada genrasi sebelumnya. Mereka adalah bagian dari kelas menengah dan kelas atas yang tidak lagi memandang pernikahan sebagai satu-satunya tujuan atau jaminan rasa aman. Mereka sepertinya dengan sengaja memilih untuk melupakan kehidupan keluarga tradisional dan lebih mementingkan kehidupan pribadi. Kolektivisme terlihat semakin memudar dan digantikan oleh individualisme. Namun negara tak lantas berpangku tangan, melainkan berupaya keras dalam menghadapi situasi ini dengan berbagai cara.


Propaganda mendesak pasangan untuk memiliki anak dijumpai di media maupun poster jalanan. Memiliki anak adalah patriotisme untuk negara. Propaganda yang masif di media pemerintah semata-mata untuk mendongkrak jumlah kelahiran. Bahkan dalam beberapa diskusi di media, perempuan tidak dianjurkan untuk menunda pernikahan demi berkarier. Di tengah masyarakat juga muncul label “perempuan sisa” disematkan kepada mereka yang belum menikah di atas 27 atau 30 tahun. Label perempuan sisa tentu menjadi tekanan dan hanya ada dua pilihan, yaitu segera menikah walaupun seringkali ada pemaksaan dari keluarga ataupun biro jodoh atau bersikap masa bodoh dan melanjutkan karir. Aborsi yang dulunya adalah praktik wajar dan tersedia secara luas kini mulai dikendalikan. Walaupun beberapa usaha telah dilakukan namun untuk saat ini memang hasilnya masih jaung panggang dari api.


Para perempuan lajang kini semakin diakui keberadaannya karena tingkat pendidikan, karir, serta prestasinya. Novel Ode to Joy (欢乐颂) dan All is Well (都挺好) karya Ane yang juga menjadi serial drama laris di Tiongkok daratan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kebebasan dalam berkarir hingga memperoleh status dan jabatan yang lebih tinggi daripada laki-laki. Lajang dan bebas tidak lagi dianggap aneh meskipun generasi sebelumnya selalu tidak memahami dengan sikap tersebut. Pada 11 November (双十一 atau double 11) yang menyimbolkan angka tunggal sebagai status lajang adalah hari di mana mereka merayakan status lajangnya. Mereka merayakan hari lajang dengan berbelanja online dan saat ini telah mencatat rekor belanja terbesar di dunia, yaitu 30,8 miliar dolar pada tahun 2018.


Meskipun perempuan masih menghadapi diskriminasi, namun tidak dapat dihindarkan lagi bahwa perempuan semakin mengungguli laki-laki. Saat ini lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang masuk universitas, dan memperoleh gelar master ataupun doktoral sudah sangat biasa. Selain itu kemampuan mereka di dunia kerja juga semakin meningkat. Semakin banyak guru dan dosen perempuan dan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan tinggi dalam suatu perusahaan. Faktanya sekitar 7 dari 10 ibu bekerja dan delapan puluh persen dari semua miliarder perempuan di dunia adalah Tionghoa. Diskriminasi yang terjadi di dunia pendidikan maupun kerja pada masa lalu akan semakin memudar dan emansipasi akan terwujud dalam waktu dekat.


Pergeseran demografis yang signifikan ini jelas berdampak pada tantangan sosial dan ekonomi yang besar. Selama beberapa dekade Tiongkok menuai manfaat dari bonus demografi yang memasok tenaga kerja produktif bagi sektor manufakturnya, yang kemudian memungkinkan Tiongkok muncul sebagai kekuatan ekonomi global. Untuk negara yang ekonominya tetap bergantung pada sumber tenaga kerja yang terjangkau untuk menggerakkan sektor manufakturnya, penuaan populasi tentu menghadirkan masalah yang serius karena ketika surplus tenaga kerja masif ini mulai berkurang, upah manufaktur cenderung meningkat dan keuntungan akan semakin menurun.


Jumlah orang yang berusia 15 hingga 24 tahun sudah mulai menurun dan akan semakin menurun selama beberapa dekade berikutnya. Satu perusahaan rekrutmen bisnis telah memproyeksikan bahwa pada tahun 2030 Tiongkok akan melengkapi tenaga kerjanya yang semakin menipis dengan mempekerjakan pekerja dari luar negeri. Namun upaya untuk menarik pekerja asing ditentang oleh masyarakat lewat media sosial. Mereka menganggap bahwa pekerja asing adalah ancaman yang merebut hak dan kesempatan masyarakat asli di dunia kerja. Terlepas dari kontroversi tersebut, yang terjadi saat ini adalah jumlah pensiunan mulai meroket, perkonomian masif yang dibangun di atas industri padat karya tidak memiliki jaring pengaman sosial untuk melindungi kaum lanjut usia secara layak. Jaminan sosial layak banyak dinikmati oleh pensiunan pegawai negeri daripada swasta.


Dalam falsafah serta tradisinya sebagian besar anak-anak Tionghoa merawat orang tua mereka sampai usia lanjut, seperti yang ditunjukkan dalam ungkapan 养儿防老 (yǎng ér fáng lǎo) yang berarti “orang tua membesarkan anak untuk merawatnya di hari tua.” Akibatnya, hanya sebagian kecil dari sumber daya pemerintah diarahkan untuk perawatan lansia. Menurut Biro Statistik Tiongkok, rata-rata ada 27 tempat tidur di panti jompo untuk setiap 1.000 lansia pada 2015. Keadaan yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin sedikit anak yang merawat orang tua mereka karena alasan pekerjaan, apalagi banyak anak muda yang meninggalkan desa untuk bekerja di perkotaan.  Lebih jauh lagi, meningkatnya jumlah pensiunan lanjut usia dan kelompok pembayar pajak yang menyusut akan membuat tekanan keuangan yang signifikan pada pemerintah. Pada saat itu Tiongkok akan memiliki populasi usia kerja yang lebih kecil secara proporsional dengan tanggung jawab menyediakan bagi yang muda dan tua.


Penuaan populasi membuat Tiongkok perlu menyediakan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan para lansia yang mungkin mengubah norma-norma sosial dalam proses tersebut. Pemerintah akan memainkan peran yang besar dalam memperkuat sistem kesejahteraan sosial  dalam meningkatkan kemampuan perawatan kaum tua. Walaupun masih ada waktu 20an tahun sebelum proporsi populasi lansia menjadi dua kali lipat namun tantangan ini harus segera diselesaikan. Para lansia yang berkumpul di taman setiap pagi memang tidak semuanya memancarkan keceriaan di wajahnya, namun di masa mendatang ketika permasalahan kesejahteraan mereka terpenuhi secara layak maka akan semakin banyak senyum keceriaan.


#MasalahSosialChina #SosialMasyarakatChina #ArtikelTiongkok #EsaiTiongkok #BudayaTiongkok #PopulasiMenuaChina

0 views