Revolusi Toilet

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto


Ilustrasi


Kesan kotor, bau, air yang tidak mengalir, tidak higienis, tak ada tisu selalu muncul pada toilet umum di Tiongkok, bahkan di kota Beijing pada tahun 2016. Tidak semua kafe atau restoran menyediakan toliet, bahkan di tempat pariwisata beberapa kali menjumpai toilet yang jorok karena mereka tidak menyiram, membuang tisu atau puntung rokok di lubang kloset. Beberapa kali sempat muntah karena tak tahan mencium baunya dan terpaksa harus menahan napas ketika harus buang air kecil.

Kondisi yang lebih menyedihkan adalah jika pergi ke pedesaan maka akan lebih sulit menemukan toilet di rumah. Mereka biasanya memiliki toilet umum yang mungkin jaraknya sangat jauh. Toilet di pedesaan yang paling dibenci adalah toilet terbuka dan kering. Tidak ada atap, tidak ada bak air, hanya ada lubang untuk buang kotoran. Anda harus menyiapkan tisu sebelum bepergian, namun bagi yang terbiasa menggunakan air mengalir maka keadaannya akan lebih menyulitkan lagi.

Inilah fakta yang sering ditemui pada waktu itu. Kondisi itu terjadi di abad ke 21 ini di negara dengan perekonomian terbesar kedua. Masalah mendasar dalam kesehatan masyarakat Tiongkok adalah standar kebersihan yang rendah, khususnya pada aspek sanitasi. Banyak pendatang ataupun wisatawan asing seringkali merasa aneh dengan masyarakat yang terbiasa dengan keadaan toilet seperti itu. Mereka mengalami gegar budaya yang sangat luar biasa karena kaget melihat toilet dengan fasilitas seadanya. Banyak yang berpikir apakah mereka merasa normal dengan toilet kering.

Apakah mereka juga merasa jijik, namun mengapa tidak ada keinginan untuk mengubah kebersihan dan kualitas toilet ? harus dipahami juga bahwa Tiongkok masih berstatus negara berkembang dan dengan kesenjangan ekonomi dan sosial antara pedesaan dan perkotaan maka tidak mudah untuk mengedukasi seluruh masyarakat. Meskipun begitu langkah ekstrim dari pemerintah bisa dilakukan untuk mengubah keadaan.

Sejak akhir abad ke-20, sanitasi dan perilaku orang Tiongkok terhadap kondisi toilet telah dikritik oleh orang asing. Bahkan menjadi topik perbincangan khas yang menggambarkan keterbelakangan masyarakat Tiongkok di berbagai media. Beberapa foto yang menunjukkan mereka buang air di tembok, selokan, dan buang air besar di pinggir jalan masih dapat ditemukan. Dalam beberapa kesempatan juga masih bisa dijumpai orang dewasa yang menyuruh anaknya buang air di pinggir jalan meskipun di kota besar. Menurut pihak berwenang, sekitar 4,3 juta pengunjung domestik dan luar negeri mengalami pengalaman tak menyenangkan di toilet di tempat-tempat wisata setiap tahunnya. Bagi mereka lebih baik cepat-cepat kembali ke hotel daripada menggunakan toilet umum.

Konsep toilet dan perilaku masyarakat di Tiongkok dengan peradaban pertanian yang panjang tentu beragam dan kompleks. Selain masyarakat di perkotaan banyak masyarakat yang hidup di padang rumput, hutan, dan pegunungan yang sering kali tidak memiliki toilet tetap. Selain itu, salah satu ciri khas peradaban pertanian adalah menggunakan lebih banyak kotoran ternak bahkan kotran manusia sebagai pupuk kandang. Namun pada kalangan petani di daerah tertentu tidak akan menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk. Oleh karena itu, memang persepsi kotoran manusia di kalangan pertani di berbagai daerah berebda-beda.

Sebuah lubang tanah berumur 5.000 tahun yang dianggap toilet tertua ditemukan di situs di Desa Banpo, Xi'an. Pada Dinasti Zhou, ditemukan karakter 井溷 yang mengandung makna toilet. Karakter tersebut secara harafiah berarti sumur kandang babi, namun sebenarnya tidak hanya mengacu pada kandang babi, tetapi kandang babi dan toilet. Kemudian selama dinasti Qin dan Han, mulai muncul toilet duduk dan jongkok, toilet yang membedakan antara pria dan wanita, dan toilet dengan pembatas, bahkan toilet yang memberi perhatian khusus pada privasi dan kenyamanan.

Kondisi toilet yang telah mendapat sorotan negatif dunia ini kemudian ditanggapi serius oleh pemerintah. Pada April 2015 presiden Xi Jinping menyerukan "revolusi toilet", perang habis-habisan terhadap kondisi kamar mandi yang tidak higienis. Inisiatif revolusi toilet oleh Presiden Xi menjadi berita utama Harian Rakyat, surat kabar resmi Komite Sentral Partai Komunis. Pemerintah mengakui bahwa toilet umum Tiongkok tidak higienis, kotor, mengundang rasa jijik, dan tidak banyak tersedia di tempat-tempat pariwisata. Kondisi toilet di Tiongkok adalah masalah serius yang semakin meningkat bagi industri pariwisata yang sedang tumbuh serta krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung.

Masalah sanitasi berdampak serius pada masyarakat, bahkan anak-anak sekolah tidak mendapatkan fasilitas dan pendidikan terkait sanitasi. Berkembang biaknya lalat, nyamuk, tingginya kejadian infeksi usus seperti kolera, disentri serta penyakit parasit seperti schistosomiasis telah membawa bencana besar bagi kesehatan masyarakat Tiongkok. 80% penyakit menular di daerah pedesaan disebabkan oleh kontaminasi tinja di toilet dan air minum yang tidak higienis, di antara persentase tersebut, ada lebih dari 30 jenis penyakit menular yang berhubungan dengan feses, termasuk disentri, kolera, hepatitis, dan diare.

Sejak awal 1990-an, Tiongkok telah mengalami skala urbanisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, mendorong jutaan penduduk desa ke kota. Urbanisasi besar-besaran selama tiga dasawarsa terakhir tersebut semakin mengekspos mata rantai yang lemah dalam sistem sanitasi dan memburuknya kondisi kesehatan secara keseluruhan. Kota-kota ini kemudian menciptakan risiko kesehatan yang lebih besar, seperti polusi udara, pandemi seperti SARS pada tahun 2003, flu burung pada tahun 2013 dan terakhir wabah virus korona tahun 2020 yang menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat. Revolusi toilet membutuhkan upaya bersama dari banyak institusi pemerintah maupun swasta. Selain itu juga perlu memperhatikan kemajuan teknologi, penerimaan sosial, dan masalah pemeliharaan.

Revolusi toilet bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, mendidik warga menjaga kebersihan, serta meningkatkan taraf hidup. Antara tahun 2015-2019 pemerintah telah membangun sebanyak kurang lebih 68.000 toilet. Pada tahun 2020 ada 64.000 tambahan toilet berstandar dibangun. Tiongkok memiliki target toilet 100% beradab pada hingga tahun 2030 mendatang. Presiden Xi mengatakan bahwa masalah toilet bukan masalah kecil. Toilet adalah bagian penting dari konstruksi beradab di daerah perkotaan dan pedesaan. Ketika revolusi toilet menggema sampai desa-desa di pegunungan di provinsi Sichuan pada 2018, masyarakat desa dengan antusias mendukung kebijakan tersebut.

Banyak rumah telah mengubah toilet kering mereka menjadi toilet berstandar kebersihan lebih baik. Tidak jarang para tetangga melihat kondisi sanitasi yang sangat baik karena renovasi toilet, kemudian berbondong-bondong bergabung dengan proyek yang didukung pemerintah untuk meningkatkan toiletnya. Selain itu, revolusi toilet juga untuk meningkatkan jumlah dan sanitasi di lokasi wisata agar para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri merasa sangat nyaman. Pada tahun 2020 ditargertkan sekitar 85 persen rumah tangga pedesaan memiliki akses ke toilet sanitasi yang layak.

Bisa dibilang investasi terbesar yang telah dibuat pemerintah Tiongkok untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat adalah revolusi toilet. Sampai pada tahun 2020 dana sebesar US $ 4 miliar telah digelontorkan ke dalam proyek ini. Namun masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan fasilitas sanitasi di pedesaan. Untuk waktu yang lama, pemerintah selalu menghadapi kesulitan terkait kesenjangan pembangunan perkotaan-pedesaan dan masalah toilet dapat dikatakan sebagai manifestasi yang paling jelas dari kesenjangan perkotaan-pedesaan. Oleh karena itu, pemerintah dengan cepat memperbaiki situasi toilet pedesaan, mengubah wajah kesehatan pedesaan, dan mengurangi kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pejabat departemen kesehatan mengatakan bahwa reformasi toilet pedesaan telah mempromosikan perubahan dalam kebiasaan sanitasi tradisional petani dan telah membantu petani biasa memperbarui konsep kebersihan dan kesehatan mereka. Pengguna sanitasi dasar ini telah meningkat sampai pada 84 persen dari populasi yang sebelumnya hanya 56 persen.

Sebelumnya di pedesaan hanya tersedia toilet kering dengan dengan jamban terbuka, sehingga feses tidak terurai dengan baik dan berakibat munculnya berbagai penyakit. Dengan sosialisasi mendalam terhadap pendidikan kesehatan yang berkelanjutan semakin banyak petani secara bertahap menerima kebiasaan sanitasi seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak meminum air mentah, dan tidak makan makanan mentah.

Perubahan besar-besaran toilet pedesaan dan proyek-proyek sanitasi lain telah menyebabkan perubahan besar di lingkungan tempat tinggal. Saat ini telah ada toilet di rumah, kendaraan untuk membersihkan, dan tempat pembuangan sampah di pedesaan. Pejabat departemen kesehatan Tiongkok mengatakan bahwa reformasi toilet pedesaan adalah strategi mendasar untuk memperbaiki lingkungan dan mencegah penyakit dan efektif mempromosikan pembangunan peradaban ekologis di daerah pedesaan, serta peningkatan peradaban dan kesehatan masyarakat.

Kini telah muncul banyak toilet umum dengan desain yang kreatif di jalanan. Toilet umum ini tidak hanya memiliki penampilan luar yang menonjol, tetapi juga memiliki fasilitas berstandar internasional. Di tempat pariwisata juga terlihat perubahan kualitas toilet yang signifikan. Tak perlu lagi khawatir tak ada air mengalir, kekurangan tisu, dan bau. Revolusi toilet yang berlangsung sangat cepat di daerah perkotaan dan pedesaan di seluruh Tiongkok pada akhirnya mengubah konsep yang paling sulit disadari dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, yaitu perubahan komprehensif dalam konsep dan perilaku terkait dengan sanitasi.


#SosialMasyarakatTiongkok #SosialTiongkok #BudayaTiongkok #BudayaChina #RevolusiToiletChina #ArtikelChina #EsaiTiongkok

21 views