Pengentasan Kemiskinan dan Kemakmuran Bersama adalah Hak Asasi Manusia Mendasar di Xinjiang

Oleh: Hendy Yuniarto

Suku Kazak pada upacara pernikahan di padang rumput Nalati (dokumentas pribadi)


Sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB bertema "Xinjiang: Katakan Kebenaran, Tolak Pendiskreditan" diselengarakan pada 24 September melalui platform online. Para cendekiawan di bidang terkait dari Tiongkok, Pakistan, dan Inggris memberikan pidato yang memperlihatkan situasi nyata pembangunan di Xinjiang.


Dalam pidato utamanya, Xu Luping, wakil presiden Asosiasi Internasional LSM Tiongkok untuk Promosi Pertukaran Internasional, menunjukkan bahwa beberapa negara Barat telah menyebarkan kebohongan terkait Xinjiang demi kepentingan mendiskreditkan pemerintah Tiongkok. Xu Luping menekankan bahwa semua fakta membuktikan bahwa Xinjiang saat ini berada dalam periode kemakmuran dan perkembangan terbaik dalam sejarah.


Sarjana Inggris, Martinez, mengatakan bahwa ketika mengunjungi Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir, dia tidak melihat fenomena "kepunahan budaya" dan "penindasan agama" sama sekali. Tuduhan yang dibuat oleh beberapa negara Barat tentang pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang tidak mendasar.


Apa yang disebut masalah hak asasi manusia di Xinjiang dibuat sendiri oleh Amerika Serikat. Malah dengan kedok anti-terorisme, Amerika secara brutal ikut campur dalam urusan internal negara lain, memicu perang di Afghanistan, Irak, Suriah, dan tempat-tempat lain, melanggar dan menginjak-injak hak asasi manusia orang lokal.


Reporter kantor berita independen Pakistan, Assadi, mengatakan bahwa sebagai seorang reporter dia telah mengunjungi Xinjiang. Secara pribadi dia merasa bahwa pemerintah Tiongkok menghormati budaya dan adat tradisional etnis minoritas di Xinjiang dan sepenuhnya melindungi Muslim setempat berkeyakinan.


Direktur eksekutif Sekolah Menengah Pakistan Pakistan Mustafa mengatakan bahwa perjuangan anti-terorisme dan deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok telah secara efektif menjamin hak-hak dasar orang-orang dari semua kelompok etnis di Xinjiang dan menjaga keharmonisan dan stabilitas sosial.


Banyak masyarakat yang masih awam tentang keadaan sebenarnya di Xinjiang. Provinsi yang terletak di paling barat Tiongkok ini memiliki kekayaan alam dan budaya yang indah. Namun di balik keindahan alam dan keharmonisan masyarakat multietnisnya, Xinjiang masih memiliki satu masalah krusial: kemiskinan.


Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Tiongkok telah mencoba mengatasi masalah ini dengan kebijakan pengentasan kemiskinan. Pemerintah daerah dan masyarakat bekerja keras dan memanfaatkan cara yang berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Saya menyaksikan secara langsung bagaimana orang-orang dari berbagai etnis bekerja keras untuk mengubah standar hidup mereka menjadi lebih baik. Dua tempat yang saya kunjungi adalah kebun bunga di bawah gunung Tianshan dan desa budaya Uighur Yangbulake di Yining.


Lautan Bunga Di Bawah Gunung Tianshan adalah budidaya berbagai bunga dan buah-buahan oleh masyarakat lokal di wilayah Yining. Memiliki luas sekitar 7.000 hektar, ladang yang dulunya tandus kini ditanami berbagai bunga seperti bunga lavender dan bunga peony. Selain dua bunga ini, mereka juga menanam anggur dan apel. Sebanyak 2000 orang dari berbagai etnis bekerja di ladang pertanian ini. Untuk membantu pertanian tumbuh dan memiliki hasil yang maksimal, pemerintah daerah memberikan subsidi untuk kebijakan pengentasan kemiskinan.


Mulai tahun 2016, peternakan ini harus menunggu selama empat tahun sebelum menghasilkan keuntungan. Bunga peony digunakan sebagai bahan obat, sedangkan lavender diolah menjadi minyak untuk berbagai keperluan, seperti aromaterapi, kosmetik, obat-obatan, dll.


Selain untuk tujuan perindustrian, ladang pertanian ini menarik banyak pengunjung untuk berfoto karena keindahan hamparan bunga tak terbatas seperti lautan. Gunung Tianshan yang tertutup es berada di belakangnya menambah keindahan alam khas Xinjiang.


Bunga lavender yang ditanam tidak hanya untuk pasar lokal Tiongkok tetapi juga untuk ekspor ke luar negeri, terutama ke Eropa. Dengan akses kereta api yang menghubungkan Xinjiang dengan dataran Asia Tengah dan Eropa, kegiatan ekspor menjadi lebih cepat.


Budidaya bunga sangat efektif dalam meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat. Sepuluh tahun yang lalu, pendapatan masyarakat di daerah ini sangat rendah, namun setelah masyarakat dan pemerintah bekerja sama, pendapatan mereka meningkat, seiring dengan kemauan dan kerja keras untuk membangun bisnis pertanian secara bersama-sama.


Keberagaman suku di wilayah ini juga tidak menjadi halangan bagi warga untuk bergotong royong membangun usaha pertanian untuk kesejahteraan masa depan. Kini, bunga peony dan lavender juga menjadi ikon wisata di kota Yining di Xinjiang. Semua berkat ketekunan komunitas multietnis di Xinjiang.


Tempat kedua adalah Desa Yangbulake di Yining. Desa ini secara historis memiliki suasana budaya tradisional Uighur yang mengagumkan. Selama tiga tahun terakhir, desa ini telah diubah menjadi desa wisata tradisional oleh anak-anak muda yang telah kembali setelah menempuh pendidikan universitas di kota.


Seorang pria Uighur bernama Wuerkaixi dengan antusias menjelaskan bagaimana mengembangkan industri pariwisata yang berfokus pada tradisi dan budaya Uighur. Desa Yangbulake merupakan pemukiman kaum Uighur dan layak untuk ditonjolkan dan dipromosikan ke masyarakat luas.


Gaya arsitektur Desa Yangbulake masih sepenuhnya mempertahankan ciri-ciri tradisionalnya, diwariskan, dan berkembang dengan baik. Setiap keluarga di desa ini dengan hangat menyambut pengunjung. Mereka selalu berpikir bahwa orang yang datang mengunjungi mereka berasal dari jauh dan pantas diperlakukan dengan baik.


Pengunjung puas dengan suasana budaya Uighur di rumah warga lokal, mulai dari pakaian adat, arsitektur rumah, kerajinan tangan, tarian, lagu, hingga kuliner. Roti naan, sate kambing, teh susu, buah kering, yogurt, dan makanan khas Uighur lainnya juga tidak boleh terlewatkan. Masakan Xinjiang adalah salah satu masakan paling populer di Tiongkok. Di banyak kota kita dapat dengan mudah menemukan restoran Xinjiang.


Rumah-rumah di desa wisata Yangbulake juga dikembangkan sebagai penginapan. Setiap rumah dapat menampung enam orang untuk menginap. Desa Yangbulake memanfaatkan sepenuhnya letak geografis dan budayanya untuk mengembangkan pariwisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Manfaat ini memperluas pariwisata khas untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.


Di desa Yangbulake, sekitar 30 kepala keluarga dengan 90 orang berpartisipasi langsung dalam bisnis desa wisata ini. Lebih dari 30.000 wisatawan mengunjungi desa ini setiap tahun. Pendapatan rumah tangga rata-rata telah meningkat menjadi lebih dari 100.000 RMB (sekitar 200 juta) per tahun.


Upaya peningkatan perekonomian tersebut tidak lepas dari kemauan dan kerja keras masyarakat untuk mempromosikan budaya asli kepada masyarakat luas. Sekarang siapa pun dapat memahami secara mendalam budaya Uighur dan kehangatan orang-orang Uighur di desa Yangbulake.


Pemerintah dan masyarakat di Xinjiang selama ini telah bekerja keras untuk memberantas kemiskinan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Selain itu, mereka juga tetap menjaga kelestarian alam dan budaya Xinjiang. Pengalaman menjelajahi Xinjiang dan melihat langsung bagaimana usaha pemerintah bersama masyarakat bekerja keras membuktikan bahwa mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kemakmuran bersama adalah hak asasi manusia yang paling mendasar.


#pengentasankemiskinanxinjiang #pengentasankemiskinantiongkok #hamxinjiang