Obsesi Bahasa Inggris Orang Tiongkok

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto

Ilustrasi


Orang Tiongkok sangat percaya ada korelasi sangat jelas antara kemahiran bahasa Inggris dan daya saing ekonomi baik di tingkat negara ataupun individu. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia Tiongkok bagaimanapun caranya berusaha keras untuk memastikan bahwa tingkat kecakapan bahasa Inggris terus meningkat. Setiap tahun, Tiongkok mengirim kurang lebih setengah juta siswa ke luar negeri, khusunya di negara-negara berpenutur bahasa Inggris seperti AS, Inggris, Australia, Kanada.


Orang-orang kulit putih dari Eropa atau Amerika yang berada di Tiongkok seringkali diminta untuk mengajar Bahasa Inggris. Mereka diminta untuk mengajar di sekolah, di tempat kursus, ataupun mengajari anak-anak mereka secara privat di rumah. Para orang tua dari golongan menengah atas sangat menyukai kehadiran guru asing yang mengajari anak-anaknya bahasa Inggris. Beberapa keluarga atau sekolah tidak peduli darimana orang asing itu berasal, asalkan ia seorang kaukasian, berkulit putih berambut pirang, maka ia akan dianggap bisa berbahasa Inggris.


Anggapan ini tentu tidak sepenuhnya benar, namun banyak dari mereka yang percaya bahwa setiap orang yang berkulit putih dan berambut pirang bisa berbahasa Inggris. Tidak heran jika ketika berhadapan denganya, mereka akan mencoba menyapa dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Namun mereka akan kaget bahkan bertanya-tanya jika mereka tahu orang asing tersebut tak dapat berbahasa Inggris. Dulu, untuk menjadi guru bahasa Inggris mereka tidak mempermasalahkan mereka dari negara mana, asalkan terlihat “orang barat”. Namun keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Beberapa tempat kursus bereputasi tentu akan memilih penutur asli bahasa Inggris seperti dari Inggris, Amerika, Australia, dan beberapa bisa ditemukan dari Afrika Selatan. Soal gaji pun bisa lebih tinggi daripada guru dari negara-negara eropa yang lain. Selain indikator tersebut tentu sertifikat TESOL akan diminta sebagai persyaratannya.


Fungsi bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional membuat hampir semua sekolah di Tiongkok menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang utama. Mereka semakin terbiasa menghadiri kelas dan seminar dalam bahasa Inggris. Banyak penelitian di berbagai bidang ditulis atau diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Makin banyak masyarakat di kota-kota besar dapat menjawab ketika orang asing yang bertanya dalam bahasa Inggris. Banyak perusahaan pun menuntut agar karyawan mereka fasih berbahasa Inggris dengan mensyaratkan standar nilai tertentu. Tidak ada keraguan mengenai kesadaran pentingnya bahasa Inggris bagi orang Tiongkok saat ini di berbagai aspek kehidupannya. Bagi mereka tujuan utama mempelajari dan menguasai bahasa Inggris adalah untuk meningkatkan taraf ekonomi, pendidikan, dan sosial.


Para orang tua berperan besar dalam menyalurkan obsesi bahasa Inggris kepada anak-anaknya. Mereka berharap anaknya memiliki pendidikan berkelas, studi ke luar negeri, dan pada akhirnya mendapatkan pekerjaan yang bergengsi. Oleh karena itu, tidak jarang mereka mulai memasukkan anak-anaknya ke kursus bahasa Inggris sejak umur 5 tahun. Bahkan banyak keluarga di Beijing sengaja merekrut pembantu rumah tangga Filipina karena mereka berharap dapat berbahasa Inggris dengan anak majikannya. Menguasai bahasa Inggris sejak dini, inilah yang didambakan para orang tuanya, walaupun dalam beberapa situasi si anak kurang menyukai.


Di lain sisi golongan remaja umumnya tidak menganggap bahasa Inggris sebagai tujuan belajar utama mereka, namun lebih sebagai salah satu cara untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, serta agar terlihat lebih keren dalam pergaulan. Seringkali saya memperhatikan mereka menggunakan jejaring sosial barat, mengikuti musik dan film barat, dan menikmati komunikasi dalam bahasa Inggris. Mereka dapat mengakses media sosial Twitter, Youtube, Instagram, dll dengan VPN meskipun dianggap ilegal. Mereka generasi milenial serta generasi Z seringkali mencampur bahasa mereka dengan bahasa Inggris. Campur kode ataupun alih kode pun lebih sering dijumpai daripada golongan tua.


Menurut EF English Proficiency Index, kemahiran tinggi dalam bahasa Inggris ini membantu menopang perekonomian Asia yang semakin makmur, yang telah tumbuh secara signifikan selama beberapa dekade. Asia kini berada di peringkat kedua di dunia setelah Eropa di antara penutur bahasa Inggris non-native. Di Asia, Singapura tetap memimpin, diikuti oleh Malaysia, Filipina, India dan Hong Kong, sementara Korea Selatan berada di urutan keenam. Peringkat Tiongkok tidak terlalu  buruk, yaitu di urutan kedelapan diikuti oleh Jepang dan Indonesia. Secara keseluruhan satu-satunya negara dari Asia yang masuk ke sepuluh adalah Singapura di urutan kelima.


Hasil tersebut tidaklah mengejutkan karena tidak sedikit negara di Asia banyak berinvestasi dalam pelatihan bahasa Inggris dan ada keinginan besar untuk belajar bahasa Inggris. Alasan utama adalah karena demi pertumbuhan ekonomi, yang mana keinginan berinvestasi di luar negeri sangat tinggi. Tiongkok adalah contoh nyata terkini, yang mana mereka telah membuat kebijakan resmi untuk mendorong perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi ke luar  melalui berbagai macam skema inisiatif, termasuk inisiatif Sabuk dan Jalan.


Kecakapan bahasa Inggris pelajar Tiongkok telah meningkat secara signifikan selama tujuh tahun terakhir, yang tercermin pula pada pertumbuhan ekonominya dan upaya internasionalisasi tenaga kerja. Selain daya saing ekonomi, kecakapan bahasa Inggris yang lebih tinggi juga berkaitan dengan pengembangan karir. Negara-negara dengan kemampuan bahasa Inggris lebih tinggi di Asia cenderung memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi, kualitas hidup yang lebih baik dan investasi yang lebih besar dalam penelitian dan pengembangan.


Dengan fakta itu banyak orang tua memilih untuk berinvestasi dalam pendidikan bahasa Inggris bagi anak-anaknya. Kemudian Tiongkok menjadi pasar yang luar biasa besar yang selama bertahun-tahun. Perusahaan, orang tua, dan profesional menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk pelatihan bahasa Inggris dan kursus persiapan ujian. Industri ini tumbuh rata-rata 12-15% per tahun. Menurut Statistik Pengembangan Pendidikan Nasional Kementerian Pendidikan Tiongkok, ada lebih dari 50.000 sekolah berbahasa Inggris dan lebih dari 90% adalah lembaga swasta.


Pelajar Tiongkok memiliki obsesi berbicara bahasa Inggris dengan aksen Amerika. Banyak sekolah memberikan pelajaran bahasa Inggris dengan aksen Amerika, dan banyak siswa yang menghabiskan waktu demi meniru aksen ini banyak dijumpai. Tentu Bahasa Inggris yang baik tidak hanya ditentukan dengan semata-mata menguasai aksen Amerika, lagipula tidak ada aksen Amerika yang satu, karena seorang warga New York berbicara dengan aksen yang berbeda dari orang Texas maupun negara bagian yang lain. Alih-alih menghabiskan banyak waktu untuk belajar bagaimana meniru aksen Amerika, mereka lebih baik berkonsentrasi pada peningkatan keterampilan bahasa Inggris lainnya juga. Namun fenomena tersebut cukup masuk akal mengingat pengaruh aksen bahasa Mandarin (atau Chinglish) mereka cukup kuat sehingga mempengaruhi kejelasan pengucapan. Bahkan yang telah mahir pengucapan ala Amerika pun mengejek yang tak fasih pengucapannya. Sangat kuat anggapan mereka bahwa berbicara dengan aksen Amerika dapat membuat orang lain terkesan. Para pemimpin dunia berbicara bahasa Inggris dengan aksen asli mereka sendiri. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen Koreanya dan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang beraksen Afrika Etiopianya.


Sementara pasar pendidikan ESL di Jepang, Korea dan Taiwan tumbuh perlahan-lahan, ESL Tiongkok tumbuh pesat. Semakin banyak lapangan kerja dibuka, baik untuk pengajar yang bersertifikat maupun yang tak bersertifikat. Pasar ESL Tiongkok juga telah mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Tiongkok sudah menjadi pasar studi bahasa Inggris terbesar di dunia, dengan buku-buku berbahasa Inggris menyumbang lebih dari seperlima dari semua penjualan buku di seluruh negeri. Ribuan orang asing juga telah datang ke Tiongkok untuk menjadi guru atau tutor bahasa Inggris. Selain itu, dengan semakin banyak siswa yang juga berambisi studi ke luar negeri, maka semakin luas kesempatan menjadi tutor TOEFL, IELTS, SAT, serta penasihat perguruan tinggi.


Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi digital dan internet telah menjadi bagian penting dari lanskap pembelajaran bahasa Inggris di Tiongkok. Semakin banyak aplikasi belajar bahasa Inggris menerapkan pembelajaran secara online sehingga pasar belajar bahasa Inggris menjadi semakin kompetitif. Sekitar dua puluh tahun lalu Tiongkok terkenal menyediakan pekerjaan yang melimpah untuk para orang asing. Sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi di perusahaan Tiongkok selama dapat berbicara bahasa Inggris. Namun sekarang pekerjaan ini semakin kompetitif bahkan sedang mengalami penurunan. Sekarang pekerjaan ESL terbaik di Tiongkok menuntut pengalaman bertahun-tahun, sertifikat, dan mungkin keterampilan bahasa Mandarin yang ditunjukkan dengan skor HSK. Saat ini semakin banyak pemikiran mengapa sebuah perusahaan harus mempekerjakan penutur asli bahasa Inggris tanpa keterampilan bahasa Mandarin dengan mahal ketika tersedia orang Tiongkok yang fasih bahasa Inggris dan Mandarin?


Satu dekade yang lalu hampir semua orang asing baik penutur asli bahasa Inggris ataupun bukan bisa mendapatkan pekerjaan mengajar bahasa Inggris dengan sangat mudah. Namun Kantor Urusan Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan Tiongkok mengumumkan aturan baru bagi guru asing. Sekarang jika ingin mendapatkan visa kerja legal dan izin tinggal di Tiongkok diharuskan penutur asli dengan minimal bergelar sarjana dan pengalaman beberapa tahun serta bersertifikat TEFL atau TESOL. Langkah Tiongkok ini telah menyamai seperti standar di Korea Selatan dan Jepang untuk memastikan bahwa guru mengajar bahasa Inggris benar-benar berkualitas.


Bagi yang bukan penutur asli atau tidak memiliki sertifikat mengajar, masih memungkinkan menemukan mengajar, namun gajinya akan lebih rendah dan suatu saat akan menjumpai permasalahan terkait legalitasnya. Walaupun sekarang pemerintah Tiongkok telah memperkuat persyaratan untuk guru ESL, namun tidak akan cukup untuk mengisi kebutuhan guru asing bahasa Inggris. Setidaknya 100.000 guru bahasa Inggris dibutuhkan di Tiongkok,  sementara hanya ada 30.000 yang diakui memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, kebutuhan guru asing akan terus meningkat selama beberapa tahun ke depan.


Menurut Biro Urusan Ahli Asing Beijing hanya ada sekitar 500 lembaga di Beijing yang diizinkan memberikan visa kerja bagi guru asing, namun kenyataannya ada sekitar 7.000 institusi yang mempekerjakan guru asing secara ilegal. Untuk mengurangi masalah ini, beberapa agen menawarkan kontrak kepada orang asing yang tidak memenuhi syarat untuk visa kerja, memalsukan dokumen atau mendorong pelamar untuk berbohong pada lamaran mereka. Beberapa sekolah mungkin merekrut mereka dengan visa bisnis, bahkan mereka yang bervisa pelajar juga nekat direkrut. Mereka akan dibayar dalam amplop yang diisi dengan uang tunai untuk menghindari deteksi dari pihak berwenang, bahkan ada suatu kejadian guru asing disembunyikan saat tempat kursus digrebek.


Dari jumlah penduduk dan peningkatan ekomoninya, obsesi Tiongkok pada pendidikan bahasa Inggris telah melebihi negara-negara lain di dunia. Fenomena ini bukan hanya untuk meningkatkan perekonomiannya, namun juga sumber daya manusianya. Di sisi lain, obsesi ini membuka lapangan kerja yang sangat luas kepada para pengajar asing untuk bekerja di Tiongkok. Namun seiring semakin ketatnya peraturan dan makin banyak pelajar Tiongkok yang telah mendapat pendidikan barat maka mungkin dalam waktu mendatang mereka akan lebih mandiri untuk mencukupi kebutuhan guru bahasa Inggris. Akhirnya, pada masa mendatang mereka mungkin tak lagi dianggap sebagai negara yang masyarakatnya tak cakap berbahasa Inggris di mata internasional.   


#MasyarakatChina #MasyarakatTiongkok #BahasaInggrisdiChina #ArtikelChina

4 views