Menerima dan Menolak Orang Asing

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto


Ilustrasi


Seiring kemajuan ekonomi negeri tirai bambu semakin membuka tirainya untuk menarik para tenaga kerja asing datang. Jumlah ekspatriat di Tiongkok diperkirakan berjumlah lebih dari 600.000 orang dengan pusat persebaran di Guangzhou, Shanghai, Beijing, dan berbagai kota besar lainnya. Adapun tiga warga negara terbanyak berasal dari Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang. Selain para pekerja, terdapat pula mahasiswa asing yang pada tahun 2018 berjumlah lebih dari 450.000 pelajar. Jumlah pekerja maupun pelajar ini diperkirakan akan semakin bertambah.


Semakin banyak orang asing yang datang di Tiongkok maka hubungan sosial dengan orang lokal juga semakin terbiasa. Di satu sisi orang asing membiasakan diri berhadapan serta menyesuaikan diri dengan segala perbedaan budaya dan di sisi lain orang lokal juga menanggapi serta berusaha untuk memahami perilaku orang asing. Cara menyikapi perbedaan budaya pun juga berbeda beda. Ada sebagian yang memahami dan bisa beradaptasi, ada pula yang menentang dan tidak mencoba beradaptasi sama sekali. Faktanya, lebih dari 70% ekspatriat memang tidak bisa berbahasa Mandarin. Kemudian apakah hal ini akan menimbulkan kesan yang negatif di mata orang lokal ?


Opini orang lokal terhadap orang asing cukup menarik untuk diketahui lebih mendalam karena meskipun di dalam kehidupan sehari-hari mereka terlihat tidak mempermasalahkan orang asing, namun di media sosial lain soal. Masih banyak orang Tiongkok yang percaya bahwa semua orang asing bisa berbahasa Inggris. Opini tersebut cukup masuk akal karena kebanyakan orang asing memilih berkomunikasi dengan orang lokal menggunakan bahasa Inggris dan banyak dari mereka yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris.


Salah satu hal lain yang menarik tentang pandangan orang lokal terhadap orang asing adalah memiliki kemampuan berolahraga yang hebat. Orang lokal memang tidak pernah menganggap enteng soal olahraga, karena bagi mereka aspek olahraga dan para atlit yang merebut medali emas di olimpiade sangat dibanggakan. Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang lokal terhadap orang asing adalah tentang olahraga apa yang disukai dan bagaimana kemampuannya. Jangan pernah menyepelekan ketika mereka mengajak bertanding, karena mereka selalu menganggap pertandingan olahraga dengan serius.


Beberapa anggapan lain dari orang lokal yaitu orang asing adalah orang kaya, karena memang sebagian besar ekspatriat berpenghasilan di atas orang lokal pada umumnya. Namun anggapan tersebut makin lama makin menghilang. Orang lokal menganggap mereka datang untuk menjadi guru bahasa Inggris atau belajar bahasa Mandarin. Anggapan negatifpun juga dapat ditemui seperti orang asing dianggap berkelakuan kurang sopan karena tidak menghormati adat serta kebiasaan, dianggap playboy dengan suka memacari perempuan lokal, serta bergaya hidup yang dianggap merusak tatanan lokal.


Sebagian mereka yang telah lama tinggal di Tiongkok juga ingin mendapatkan izin tinggal permanen dengan berbagai alasan. Namun mendapatkan status izin tinggal permanen di Tiongkok dianggap sebagai salah satu yang paling sulit di dunia. Beberapa syarat tersebut adalah mejadi investor langsung dan memiliki bisnis yang stabil, memiliki bakat tingkat tinggi, bekerja di industri yang mendapat dukungan negara secara langsung, serta memberi kontribusi besar atau miliki keterampilan yang dibutuhkan khusus. Dari tahun ke tahun Tiongkok mengklaim semakin mempermudah proses dengan merampingkan prosedur dan meringankan persyarakatan bagi pelamar. Peraturan izin tinggal permanen yang dikeluarkan untuk orang asing oleh Tiongkok awalnya dimulai pada tahun 2004. Pada tahun 2016, sebanyak 1.576 orang asing menjadi penduduk tetap di Tiongkok, naik 163% dari tahun ke tahun, sedangkan total pemegang izin tinggal permanen sudah melampaui 20.000 orang. Sebagai perbandingan, hampir 1,1 juta orang mendapat kartu hijau di AS pada tahun 2018.


Joan Hinton adalah orang asing pertama yang menerima izin tinggal permanen pada tahun 2004. Dia adalah seorang ahli fisika nuklir dan salah satu dari sedikit ilmuwan wanita yang bekerja untuk Proyek Manhattan. Ia pindah ke Tiongkok pada tahun 1948 dan mendedikasikan dirinya untuk pengembangan mesin pertanian dan industri susu. Pada tahun 2005, seorang peraih penghargaan Nobel Ekonomi, Robert A. Mundell menerima "kartu hijau"-nya di Beijing. Ia telah bekerja di Tiongkok selama beberapa dekade, berkontribusi dalam pertukaran akademis pada bidang ekonomi, memberikan saran kepada pemerintah. Peraih Nobel Kimia tahun 2002, Kurt Wüthrich dan perain Nobel Kimia 2016, Feringa Bernard Lucas menerima izin tinggal permanen tahun 2018.  Selain para akademisi ada juga atlet olahraga yang mendapat izin tinggal permanen.


Pada tahun 2020 sebuah rancangan undang-undang diusulkan untuk mempermudah orang asing mendapatkan tempat tinggal permanen di Tiongkok. Undang-undang ini bertujuan untuk menarik pekerja asing di berbagai bidang seperti sains dan teknologi, orang-orang dengan investasi besar, dan berbagai orang berbakat. Namun usulan tersebut memicu kemarahan berbau rasis dan xenofobia di media sosial Tiongkok dan Twitter. Setelah kemarahan online berlangsung berhari-hari, pejabat tinggi mengambil proposal undang-undang tersebut kembali untuk direvisi. Berita-berita tentang hal ini pun segera disensor untuk menutup perdebatan. Pada saat itu tagar terkait berita itu telah dilihat lebih dari 5 miliar kali di Weibo dan media sosial lainnya.


Tak terhitung komentar berisi kekhawatiran bernada rasial digaungkan selama beberapa hari. Dalam Twitter, seorang netizen Tiongkok mengatakan: “kami benar-benar tidak ingin orang asing tinggal di Tiongkok. Tiongkok belum menjadi negara imigran sejak zaman kuno. Kami tidak memiliki diskriminasi rasial, kami hanya merasa bahwa negara kami memiliki hak untuk mengatakan tidak.” Seorang netizen lain bersumpah untuk membela perempuan Tionghoa dari para pendatang, khususnya dari Afrika. Salah satu netizen yang rajin berkomentar menolak orang asing khususnya dari barat berjuluk Eurasian Tiger. Ia seringkali memuntahkan kemarahannya terhadap orang barat yang bekerja atau tinggal di Tiongkok. Baginya orang asing hanya orang-orang yang tidak berhasil mendapat pekerjaan dan memilih bermigrasi ke Tiongkok. Satu netizen perempuan juga bersumpah lebih baik melompat dari Tembok Besar daripada menikahi orang asing. Para netizen itu mungkin sebenarnya tidak tahu tentang peraturan izin tinggal permanen atau malah mereka tidak pernah tahu ada peraturan izin tinggal permanen yang telah ada sejak 2004.


Beberapa kepanikan online terhadap rancangan UU tersebut tidaklah sulit dipahami. Tiongkok memang tidak siap sebagai tempat meleburnya para pendatang. Karena lebih dari 90% populasi beretnis Han, maka tidak heran jika anda menjadi merasa sangat minoritas di antara mereka. Seorang pengguna media sosial menyuarakan bahwa Tiongkok tidak boleh menjadi multikultural. Kelompok yang mendukung pernyataan ini memang sangat membanggakan identitasnya sebagai anak “Kaisar Kuning". Ungkapan ini mengacu pada klaim kemurnian ras yang digaungkan oleh kaum nasionalis selama lebih dari seabad. Perilaku yang juga disebut Chauvinisme Han tersebut pada awalnya sangat efektif pada pergerakan untuk menggulingkan kekaisaran terakhir, Qing, yang mana kaisarnya disebut orang luar yang tidak murni, yaitu Manchuria. Setelah menggulingkan Qing, kaum nasionalis mengklaim bangsa-bangsa yang membentuk republik baru mereka, termasuk Mongolia, Muslim Hui, dan Tibet sebagai cabang dari satu garis keturunan Tionghoa.


Kaum nasionalis menegaskan superioritas ras kuning dan putih di atas coklat dan hitam. Pada periode setelah 1949, para ilmuwan Tiongkok mencari bukti genetik atau arkeologis dan mengungkapkan bahwa kelompok etnis Tionghoa memiliki asal mula yang sama.

Mustahil bagi orang asing untuk menjadi Tionghoa dan mereka pun tidak berharap untuk menjadi Tionghoa. Memiliki status izin tinggal permanen di Tiongkok lebih dilatarbelakangi oleh rasa cinta pada Tiongkok, terlebih pada aspek budaya, sosial, dan ilmu pengetahuan lainnya. Selain itu mereka merasa bahwa Tiongkok adalah rumah kedua mereka yang tak akan mudah mereka tinggalkan. Seorang akademisi universitas Tsinghua, William mendapatkan izin tinggal permanen pada 2018. Rekan-rekannya melihat status barunya terebut sebagai penghormatan kepada tanah air mereka, bukan identitas baru. Mereka merasa senang, bukan karena status itu membuat ia menjadi Tionghoa tetapi karena menunjukkan bahwa ia mencintai Tiongkok.


Superioritas rasial masyarakat Tiongkok memang jarang terlihat langsung, namun seringkali dijumpai di dalam media sosial. Tidak jarang mereka merundung seseorang yang mendukung keterbukaan multikultural yang faktanya tak dapat dihindari. Perundungan di media sosial menjadikan seseorang tak mau lagi menyuarakan pemikirannya yang terbuka, apalagi banyak kalangan milenial hasil didikan barat juga tak mau repot ikut campur. Anak hasil perkawinan campuran juga sulit diterima oleh masyarakat setempat yang tidak menganggap anak mereka adalah Tionghoa. Identitas mereka akan selalu sebagai anak dari ras campuran. Namun pandangan tersebut semakin jarang ditemui di kota besar. Masyarakat di kota Beijing atau Shanghai telah terbiasa hidup dengan masyarakat multikultural karena dua kota ini memiliki jumlah orang asing yang terbanyak di Tiongkok.


Sampai saat ini Tiongkok memang menjadi tujuan yang sangat menarik bagi orang asing untuk bekerja. Secara umum terdapat dua macam ekspatriat di Tiongkok, yaitu ekspatriat tradisional dan ekspatriat abu-abu. Ekspatriat tradisional adalah mereka yang datang atau diundang sebagai ahli oleh sebuah perusahaan atau institusi pendidikan, termasuk sebagian besar guru Bahasa Inggris, guru di sekolah internasional, pilot, dokter, manajemen hotel, insinyur, dan profesi lainnya. Orang-orang ini memenuhi syarat untuk menjadi ekspatriat karena memiliki sertifikat sesuai dengan keahliannya. Ekspatriat abu-abu tentu jumlahnya jauh lebih banyak daripada ekspatriat tradisional. Kebanyakan dari mereka memang memiliki visa legal namun seringkali visa itu bukan visa yang tepat atau untuk perusahaan tempat bekerja. Selain itu mereka seringkali tidak memiliki sertifikat keahlian yang dibutuhkan. Tentu kebanyakan dari mereka di Tiongkok adalah bekerja sebagai guru bahasa Inggris.


Ekspatriat abu-abu seringkali dituduh mencuri pekerjaan penduduk setempat, namun pernyataan itu hanya dapat dilihat di media sosial. Mereka juga dituduh dianggap merebut perempuan-perempuan lokal. Hal ini wajar karena saat ini selisih laki-laki dan perempuan di Tiongkok sangat tajam. Diperkirakan terdapat lebih dari 30 juta laki-laki daripada perempuan. Para laki-laki Tionghoa mungkin merasa khawatir kesulitan mendapatkan jodohnya di kemudian hari karena para pendatang akan merebutnya.


Hidup sebagai orang asing di Tiongkok terlihat sangat menyenangkan. Namun pendapat bahwa orang asing menerima perlakuan yang istimewa, bahkan kadang diperlakukan sebagai tamu terhormat tentu tidak sepenuhnya benar. Namun karena karakter orang lokal yang  menganggap anda sebagai tamu maka anda akan dihormati. Sangat jarang dijumpai seseorang yang terang-terangan tidak menyukai orang asing karena bukan seperti itu etika mereka dalam menghadapi seseorang, apalagi orang yang bukan dari rasnya. Orang asing apalagi orang kulit putih atau berambut pirang dari barat seringkali akan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya,  orang-orang akan memanggil “lao wai”  atau orang asing atau juga berteriak “halo”, mungkin karena mereka jarang melihat ada orang asing. Namun di kota besar situasi seperti ini tentu semakin jarang dijumpai. Di tempat-tempat wisata masih sangat umum orang asing diminta orang lokal untuk berfoto bersama. Bukannya mereka terkenal, namun hanya karena mereka berkulit putih dan berambut pirang, ataupun bermata biru. Orang asing biasa masuk di program acara TV, masuk koran sebagai narasumber, masuk di film dokumenter tentang bagaimana hidup di Tiongkok, menjadi bintang iklan, bahkan menjadi bintang film. Tidak sedikit orang asing yang sengaja memanfaatkan ketampanannya untuk mencoba peruntungan pada bidang hiburan di Tiongkok.


Dalam beberapa tahun ke depan Tiongkok akan lebih banyak menarik banyak pekerja asing. Peningkatan ekonomi serta perubahan demografis yang masif adalah alasan yang utama. Dengan angkatan kerja yang menyusut menaikkan biaya tenaga kerja dan mengubah rantai pasokan global. Sejak tahun 2010, jumlah orang berusia 60 tahun ke atas meningkat lebih dari 30 persen, sementara jumlah orang dalam kelompok usia antara 20 hingga 24 tahun turun sekitar 30 persen. Pada tahun 2030, populasi di atas usia 60 diperkirakan akan tumbuh sebesar 60 persen hingga mencapai 390 juta. Masyarakat setempat sepertinya tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa di masa mendatang akan datang lebih banyak pekerja asing. Wacana menerima dan menolak orang asing akan selalu muncul di tengah masyarakat Tiongkok, termasuk isu serta permasalahan yang terjadi di lapangan antara orang lokal dan orang asing.


#SosialdiTiongkok #SosialMasyarakatTiongkok #RemajaTiongkok #MilenialTiongkok #MilenialChina #SosialdiChina #MasyarakatChina

0 views