Memberi Nama Indonesia

Esai oleh : Hendy Yuniarto

Ilustrasi


Untuk meramaikan peringatan hubungan diplomatik RI-RRT ke 70 tahun, Pusat Penelitian Antarmasyarakat RI-RRT membuat suatu artikel online yang berisi tanggapan serta harapan hubungan diplomatik yang telah lama terjalin tersebut dari para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia di Tiongkok. Di bawah setiap komentarnya tertulis nama Indonesia mereka beserta tahun angkatan. Saya yang memeriksa artikel tersebut menyarankan agar nama Indonesia diganti dengan nama asli Tiongkok saja untuk menunjukkan agar orang Indonesia yang membaca tidak salah memahami, apakah artikel tersebut ditulis orang Indonesia atau asli orang Tiongkok. Mereka pun menyetujui saran ini.


Di lingkungan universitas yang mempelajari bahasa-bahasa asing memang tidak mengherankan jika setiap mahasiswa Tiongkok mempunyai nama sesuai dengan bahasa yang sedang dipelajari, tak terkecuali yang mempelajari bahasa Indonesia. Sejak tahun 2015 saya pun memberikan nama-nama Indonesia kepada puluhan mahasiswa Tiongkok. Kebanyakan nama diambil dari bahasa Sanskerta, Jawa Kuna, ataupun nama-nama nusantara yang populer. Puspita, Ayu, Dewi, Laras, Rara, Cita, Dimas, Andini, Budi, Gita, Panji adalah beberapa nama yang pernah saya berikan. Pernah pada suatu ketika ada banyak mahasiswa yang saya beri nama-nama tokoh pewayangan seperti Arjuna, Bisma, Sadewa, Indra, Rama, dan Bayu.


Pada awal semester saat daftar nama mahasiswa baru datang, saya pun bersiap untuk memberikan nama-nama Indonesia kepada mahasiwa baru tersebut. Hal ini lebih dikarenakan tradisi yang telah dilakukan dari tahun ke tahun. Mungkin ada alasan lain bagi seorang dosen yang kesulitan mengucapkan nama Mandarin. Mengucapkan 张永卓 (Zhāng yǒng zhuō)tentu lebih sulit daripada nama Cita yang diberikan kepadanya.


Bagi mereka yang sedang mempelajari bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya pun juga akan memiliki nama asing. Alasan mengapa mereka memiliki kebiasaan yang dilakukan di lingkungan akademik seperti itu tentu menarik untuk ditelusuri. Pertama, mereka merasa keren jika memiliki nama asing, apalagi yang diberikan langsung pada dosen native mereka. Meskipun alasan ini terucap langsung dari mereka namun alasan ini tentu tidak akan menjawab latar belakang kulturalnya.


Alasan kedua, memiliki nama asing akan membuat mereka merasa lebih mendalami bahasa dan budaya yang sedang mereka pelajari sehingga ada perasaan lebih menyatu. Ada kecenderungan mereka menerapkan sikap budaya yang tercermin dalam ungkapan idiom 入乡随俗(rù xiāng suí sú)yang berarti di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Mereka merasa lebih nyaman ketika lebih dekat dengan budaya yang sedang dipelajarinya jika memiliki nama asing. Ketiga, dengan memiliki nama asing maka akan mempermudah dosen native mereka memanggil nama mereka karena nama Mandarin memang tidak mudah untuk diucapkan dengan tepat. Dalam hal ini mereka menginginkan agar dosen tidak sulit mengingat dan salah ucap nama mereka. Selain itu, ada anggapan bahwa ketika belajar atau bekerja di negara tujuan mereka maka penggunaan nama ini akan mempermudah komunikasi antara dua masyarakat beda budaya.


Pemberian nama asing lama kelamaan telah menjadi tradisi di lingkungan akademik, khususnya yang mempelajari bahasa-bahasa asing. Seorang mahasiswa yang mempelajari beberapa bahasa asing juga sangat mungkin dia memiliki beberapa nama. Tidak jarang ditemukan mereka yang memiliki nama seperti dalam bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Korea, dan lain-lain. Kondisi sebaliknya pun terjadi pada mahasiswa asing yang mempelajari bahasa Mandarin, khusunya yang berada di Tiongkok. Dosen-dosen mereka akan memberikan nama Tiongkok dengan beberapa alasan yang hampir sama seperti yang telah diuraikan di atas. Banyak dari mereka tidak diberi nama baru, melainkan menyesuaikan pengucapan dalam bahasa Mandarin, seperti David menjadi 大卫 (dà wèi).


Tidak sedikit orang merespon nama-nama asing yang dimiliki orang Tiongkok tersebut. Ada beberapa orang Indonesia yang heran mengapa mereka menemui orang Tiongkok bernama Budi, Anjani, Agung, Rini. Keheranan mereka pertama adalah mengapa memiliki nama asing, mengapa namanya cenderung sederhana dan sangat umum, dan mengapa mereka diberi nama tersebut. Keheranan juga dirasakan oleh orang asing yang melihat ada keanehan pada nama-nama Inggris mereka.


Topik berita nama-nama aneh yang dipakai mahasiswa Tiongkok menjadi sangat hangat dari kurun 2011-2019 di beberapa media seperti: vice.com, washingtonpost.com, theatlantic.com, reddit.com, dan berbagai media internasional lainnya. Dalam beberapa artikel tersebut selalu dijelaskan masyarakat penutur bahasa Inggris yang heran mengapa mereka memiliki nama-nama aneh tersebut dan apakah mereka sangat penting bagi mereka untuk memiliki nama Inggris. Namun apakah mereka pun tidak membuat artikel tentang bagaimana penutur Inggris mengucapkan nama-nama Mandarin yang kedengaran aneh dan membuat tertawa, ataupun juga mereka memiliki tato karakter Hanzi di tubuh mereja dengan arti yang aneh pula.


Bagaimanapun nama seperti Leo, Tony, Steven, Henry, Grace, Snow, Apple adalah beberapa nama Inggris yang pernah saya temui. Ada juga nama-nama yang bermakna imut atau lucu bagi perempuan seperti Happy, Flower, Rose, Cherry, Sunny. Namun ada pula nama-nama yang disorot karena cenderung aneh dan tidak biasa seperti Fly, Rain, Rainbow, Color, Sky, Dream. Meskipun terlihat aneh namun beberapa nama tersebut adalah terjemahan langsung dari salah satu unsur karakter nama Mandarinnya. Oleh karena itu, aspek penerjemahan langsung dari unsur nama Mandarin dapat menjadi salah satu alasan pandangan terhadap fenomena nama unik mereka.


Tradisi pemberian nama atau mengambil nama bahasa Inggris tentu berbeda dengan pemberian nama bahasa Indonesia karena mahasiswa Tiongkok yang belajar bahasa Indonesia  jauh lebih sedikit meskipun kini setiap tahun terdapat sekitar 400 mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia.  Memberikan nama Indonesia seharusnya tidak hanya sebatas bertujuan mempermudah sewaktu memanggil, apalagi hanya menuruti suatu tradisi. Jika hanya menuruti alasan tersebut maka pemberian nama tidak akan memiliki makna apapun.


Memberikan nama Indonesia seharusnya didasari atas rasa menghormati dan melestarikan budaya. Ada banyak nama-nama yang indah dan bermakna. Seperti orang tua yang memberikan nama yang baik kepada anaknya karena setiap nama adalah doa, mengandung harapan agar kelak menjadi yang diinginkan sesuai dalam nama tersebut. Nama Widya pernah saya berikan kepada mahasiwa bernama 莫禹茗(mò yǔ míng)dengan harapan bahwa ia akan mendapatkan pengetahuan yang berharga, atau juga nama Dian yang aslinya 岳卿羽 (yuè qīng yǔ)dengan harapan ia akan memberikan penerangan seperti pelita, dengan ilmunya kepada orang lain.


 Memberikan nama yang baik juga menjaga martabat persahabatan kedua negara. Mereka yang memakai nama bahasa Indonesia akan bekerja di perusahaan atau kementerian negara  yang saling bekerja sama satu sama lainnya. Indonesia dan Tiongkok telah menjalin hubungan selama 70 tahun, melewati berbagai keadaan pasang surut, namun hubungan tersebut tidak goyah malah semakin akrab. Dalam artikel yang telah dibuat oleh mahasiswa tentang peringatan hubungan diplomatik RI-RRT biarlah mereka menuliskan nama aslinya untuk menandakan bahwa mereka orang asli Tiongkok. Namun ketika bertemu dengan mereka dan menyampaikan nama mereka dalam bahasa Indonesia maka anggaplah bahwa ini adalah bentuk persahabatan antara kedua negara yang semakin erat.


#70TahunIndonesiaTiongkok #Hubunganbilateral #BIPATiongkok #BIPAChina #BIPACina #IndonesiaTiongkok

0 views