Melawan Kemiskinan Ala Tiongkok

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto

Ilustrasi


Di suatu pedesaan penduduk setempat sedang merekam video pendek tentang situasi desa mereka yang masih asri alami di berbagai aplikasi video streaming. Beberapa video klip menunjukkan penduduk desa memanen buah, sayur, mengambil ikan besar, dan mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual. Selain untuk memasarkan hasil pertanian, mereka pun dapat juga menerima hadiah virtual dari penggemar melalui aplikasi video yang dapat mereka tukarkan dengan uang tunai. Ramainya fenomena video pendek pedesaan itu adalah bagian kecil dari upaya nasional besar-besaran, ambisi presiden Xi untuk mengangkat hampir 1,4 miliar orang Tiongkok keluar dari kemiskinan pada tahun 2020. Gagasan untuk membuat video di desa tersebut berasal dari kepala pejabat pengentasan kemiskinan yang telah membantu para petani provinsi Guizhou menjual produk pertaniannya secara online.


Pemerintah Tiongkok mendefinisikan standar kemiskinan yaitu berpenghasilan kurang dari 2.800 yuan setahun atau sekitar 1,10 dolar AS sehari. Pemerintah telah mengirim sekitar ratusan ribu pejabat partai ke daerah-daerah untuk mendorong kampanye anti-kemiskinan. Mereka berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk membantu. Mereka yang gagal dalam misi untuk mengurangi kemiskinan dapat dicopot dari jabatannya. Para pemimpin lokal menanggapinya dengan sangat serius, bahkan panik karena banyak dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menurut tujuan pemerintah, pengentasan kemiskinan akan tercapai ketika standar seperti akses ke makanan, pakaian, pendidikan wajib untuk anak-anak, perawatan medis dasar dan kondisi kehidupan yang baik semuanya terpenuhi.


Mimpi untuk memberantas kemiskinan yang meluas di Tiongkok sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum Xi. Gerakan ini berawal dari kebangkitan partai komunis pada 1949 karena salah satu alasan keberadaan partai komunis pada awalnya adalah karena ketidakadilan dan kemiskinan di kalangan petani. Strategi “Lompatan Besar Maju ke Depan” Mao Zedong yang dimulai pada tahun 1958 seolah-olah merupakan upaya untuk mengubah masyarakat agraris melalui industrialisasi besar-besaran serta mengorganisasi semua produksi suatu negara sehingga dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Yang terjadi justru malah menciptakan kelaparan yang menelan korban puluhan juta jiwa dan kemiskinan yang memburuk di seluruh negeri. Namun sayang kegagalan tersebut seringkali ditutup-tutupi sehingga banyak orang yang tidak tahu bencana yang sebenarnya terjadi. Pada tahun 1978 Deng Xiaoping mulai meliberalisasi ekonomi dan salah satu reformasi pertamanya adalah membiarkan petani yang berjuang menjual kelebihan produk untuk mendapat untung.


Pada 1978 setelah bertahun-tahun negara mengendalikan semua aset produktif, pemerintah Tiongkok memulai program besar, yaitu reformasi ekonomi. Dalam upaya membangunkan raksasa ekonomi yang sebelumnya pasif, ia mendorong pembentukan perusahaan di pedesaan dan bisnis swasta, meliberalisasi perdagangan dan investasi asing, melonggarkan kontrol negara atas sejumlah harga produk, dan berinvestasi dalam produksi industri dan meningkatkan pendidikan termasuk tenaga kerjanya. Strategi ini menghasilkan keberhasilan secara signifikan. Jika dibandingkan dengan Tiongkok pra-1978 yang tumbuh 6 persen per tahun (dengan beberapa pasang surut karena kebijakan yang menyakitkan di sepanjang tahun-tahun tersebut), Tiongkok pasca-1978 telah meningkat pertumbuhan nyata rata-rata lebih dari 9 persen per tahun dengan naik turunnya.


Dalam beberapa tahun, ekonomi tumbuh lebih dari 13 persen. Penghasilan per kapita hampir empat kali lipat dalam 15 tahun terakhir, dan beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa ekonomi Tiongkok akan lebih besar daripada Amerika Serikat dalam sekitar 40 tahun. Pertumbuhan semacam itu lebih baik dibandingkan dengan harimau Asia lain seperti Korea, Jepang, dan Singapura. Investasi modal ternyata berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan sebagian besar pertumbuhan Tiongkok beberapa dekade tersebut sebenarnya disebabkan oleh investasi modal yang telah membuat negara lebih produktif. Dengan kata lain, permesinan baru, teknologi yang lebih maju, dan lebih banyak investasi dalam infrastruktur telah membantu meningkatkan hasil. Produktivitas Tiongkok meningkat pada tingkat tahunan 3,9 persen selama 1979-94, dibandingkan dengan 1,1 persen selama 1953-78. Pada awal 1990-an, pertumbuhan hasil melebihi 50 persen. Analisis periode sebelum dan sesudah 1978 menunjukkan bahwa reformasi berorientasi pasar yang dilakukan oleh Tiongkok sangat penting dalam menciptakan ledakan produktivitas.


Upaya Tiongkok untuk memerangi kemiskinan sejak saat itu sangat mengejutkan. Menurut Bank Dunia pada tahun 1990 ada lebih dari 60% dari populasi atau lebih dari 750 juta jiwa hidup dalam kemiskinan di seluruh negara. Hampir 30 tahun kemudian pada tahun 2019, Beijing mengatakan bahwa jumlahnya telah turun menjadi hanya 16,6 juta jiwa. Salah satu klaim utama keberhasilan partai komunis terhadap kekuasaannya dalam beberapa tahun terakhir adalah bahwa ia telah mengangkat ratusan juta orang dari kemiskinan. Namun, Xi masih belum puas. Terlepas dari meningkatnya kemakmuran di kota-kota besar, sebagian orang-orang pedesaan masih hidup tanpa listrik, air bersih, makanan dan pakaian yang memadai. Dalam pidatonya di tahun 2015, Xi mengatakan dia terinspirasi untuk menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai program prioritas dengan pengalamannya bekerja di pedesaan.


Tiongkok memang berhasil mengentaskan ratusan juta orang keluar dari kemiskinan. Antara tahun 2000 dan 2010 pendapatan per kapita juga naik dengan tingkat yang sama, dari $ 1.000 menjadi $ 5.000, yang kemudian meningkatkan Tiongkok ke jajaran negara-negara berpenghasilan menengah. Dengan jumlah terbesar orang yang keluar dari kemiskinan, Tiongkok adalah negara berkembang pertama yang mewujudkan tujuan untuk pengurangan kemiskinan. Saat ini, Tiongkok sedang berjuang untuk memberantas kemiskinan sampai habis dengan menerapkan strategi dasar untuk mengambil langkah-langkah yang ditargetkan untuk pengentasan kemiskinan sampai akarnya.


Tim-tim kerja pada program ini telah dikirim ke desa-desa untuk melakukan penyelidikan. Sebanyak 2,78 juta pegawai dan 459.000 pejabat telah dipilih dari seluruh negeri dan ditugaskan untuk melayani desa-desa miskin. Pemerintah mengembangkan industri yang bervariatif, memajukan melalui relokasi penduduk, melakukan restorasi ekologis, memperkuat pendidikan, meningkatkan jaminan sosial, dan mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa orang miskin menerima bantuan dan.



Pada tahun 2018, pemerintah memiliki program yang menawarkan bantuan besar kepada daerah miskin, termasuk petani dan peternak, dan juga terus mempromosikan proyek pengentasan kemiskinan melalui pengembangan industri dengan sumber daya listrik tenaga surya dan e-commerce. Kemudian secara bertahap memperkaya mekanisme pengurangan kemiskinannya. Selain itu juga mengadakan lebih dari 30.000 lokakarya pengentasan kemiskinan untuk serta membantu orang-orang miskin terdaftar untuk bekerja di daerah yang dekat dengan rumah mereka. Lembaga keuangan seperti Bank Pembangunan Pertanian China, Bank Pertanian Cina dan Koperasi Kredit Pedesaan telah meningkatkan kontribusi pinjaman yang dikeluarkan untuk proyek-proyek terkait.


Dalam bidang pendidikan, Tiongkok semakin meningkatkan kondisi sekolah, mengendalikan angka putus sekolah untuk mengejar wajib belajar bagi yang kurang beruntung di daerah-daerah yang dilanda kemiskinan. Dalam bidang kesehatan pemeritah memiliki program untuk memberikan perawatan medis kepada orang-orang miskin dengan penyakit serius di daerah pedesaan yang mencakup 21 jenis penyakit, mengurangi rasio biaya perawatan kesehatan yang dibayar sendiri untuk pasien miskin, dan memperbaiki kondisi perawatan medis di daerah miskin. Dalam bidang lingkungan, lebih dari 500.000 orang yang hidup di bawah garis kemiskinan telah dipekerjakan sebagai penjaga hutan yang dibayar pemerintah melalui program-program bantuan kemiskinan.


Sejauh ini Tiongkok telah selesai membangun mekanisme pengentasan kemiskinan dengan karakteristik khas mereka, dengan menerapkan kebijakan dan sistem penilaian bertanggung jawab. Berkat langkah-langkah yang terprogram, wilayah yang semula miskin berubah menjadi makmur. Petani dari daerah miskin melihat pendapatan mereka tumbuh 12 persen tiap tahun. Lebih dari 90 persen pedesaan terhubung dengan jalan aspal dan memiliki layanan bus. Selain itu, peningkatan akses ke air minum dan sanitasi juga membuat desa lebih layak huni. Konsumsi per kapita di daerah pedesaan yang miskin pun semakin bertumbuh bertumbuh.


Layanan kesehatan masyarakat sekarang tersedia di 93,2 persen pedesaan, dan 89,8 persen rumah tangga pedesaan dapat menemukan sekolah dasar di dekatnya. Selain itu, 92 persen rumah tangga miskin mengembangkan industri dengan karakteristik lokal. Kampanye pengentasan kemiskinan Tiongkok telah menyulut hasrat orang-orang miskin yang menuntut tidak hanya untuk keluar dari kemiskinan, namun tetap dihapuskan dari kemiskinan. Pergeseran pola pikir seperti itu membangun kekuatan bersama yang kuat untuk memerangi kemiskinan.


Rencana pemerintah dibagi menjadi dua macam, yaitu kebijakan nasional dan kebijakan lokal. Di tingkat nasional kebijakan lebih terfokus pada peningkatan infrastruktur. Menurut angka pemerintah lebih dari 200.000 kilometer jalan dibangun atau direnovasi pada 2018 dan 94% desa miskin terhubung ke internet. Puluhan perusahaan milik negara telah bergabung dengan kampanye dan menggelontorkan lebih banyak dana dalam program bantuan kemiskinan pada awal 2019. Pejabat-pejabat lokal terus turun ke setiap rumah tangga miskin dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan mengapa orang miskin dan bagaimana menerapkan sumber daya untuk itu. Solusi yang diajukan sangat bervariasi tetapi seringkali berfokus pada mendorong penduduk desa untuk keluar dari kemiskinan dengan mengembangkan industri lokal, terlibat dalam e-commerce dan meningkatkan pariwisata pedesaan.


Pejabat lokal dan provinsi seringkali mendapat tekanan politik karena pemerintah pusat telah menetapkan pengentasan kemiskinan sebagai indikator kinerja seorang pejabat pemerintah. Pejabat pemerintah dilarang hanya menyalurkan dana tanpa menemukan cara untuk mencapai aliran pendapatan yang berkelanjutan dan stabil. Seorang pejabat daerah bisa dikeluarkan dari partai karena kegagalannya untuk mengatasi kemiskinan di wilayah pemerintahannya. Pemerintah pusat rajin menginspeksi daerah-daerah untuk memeriksa apakah para pejabat mengikuti perintah pengentasan kemiskinan. Banjir anggaran pemerintah dan perusahaan yang dialokasikan untuk menangani kemiskinan ini juga menghidupkan kembali budaya korupsi yang selalu ada. Menurut badan anti-korupsi pada tahun 2018 lebih dari 170.000 orang tertangkap karena penyelewengan dana pengentasan kemiskinan.



Usaha dalam pengentasan kemiskinan dalam beberapa situasi juga mengancam kelestarian lingkungan seperti penurunan kualitas udara dan air. Selain itu, ketimpangan masih menjadi masalah besar di Tiongkok, termasuk ketidaksetaraan gender dan regional yang signifikan, yang berarti pemerintah perlu berbuat lebih banyak untuk menargetkan perempuan dan orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan serta kelompok-kelompok lain seperti orang cacat, untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Industri serta pabrik memang membawa pekerjaan dan kemakmuran namun dengan mengorbankan lingkungan, atau sumber daya alam dieksploitasi untuk keuntungan finansial. Ditambah praktik KKN yang masih dilakukan para pejabat membuat usaha pengentasan kemiskinan terhambat.


Selama empat dekade Tiongkok telah menciptakan kelas menengah terbesar di dunia dengan mengejar industrialisasi, meliberalisasi sektor swasta, menyambut investasi asing dan merangkul perdagangan global. Jutaan petani berpindah dari ladang ke pabrik, mendapat upah lebih tinggi, menabung, dan menberikan anak-anak mereka pendidikan yang lebih baik. Selain itu, lonjakan kewirausahaan swasta juga membantu menciptakan negara kelas menengah terbesar di dunia saat ini. Pertumbuhan produktivitas Tiongkok yang kuat, didorong oleh reformasi berorientasi pasar 1978 adalah penyebab utama percepatan ekonomi Tiongkok yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itulah bagaimana negara ini mengentaskan kemiskinannya sampai kering.


#MasyarakatTiongkok #SosialdiTiongkok #KemiskinandiTiongkok #ArtikelTiongkok #EsaiTiongkok #ArtikelChina #SosialMasyarakatTiongkok #PengentasanKemiskinanTiongkok

3 views