Tiongkok dan Peringkat 1 PISA

Updated: Feb 27

Penulis : Hendy Yuniarto


Pada tahun 2018 Tiongkok melesatkan peringkat PISA ke nomor wahid. Bagaimana cara negeri tirai bambu tersebut melakukannya ? bagaimana pendidikan di tingkat sekolahnya ?

ilustrasi (straitstimes.com)


Hasil tes terbaru PISA (2018) telah keluar dan bagi beberapa media yang mengulas hasil tersebut reaksinya bermacam-macam. Salah satu reaksi mengejutkan ditujukan pada hasil tes Tiongkok yang mana menduduki peringkat pertama dengan skor tertinggi pada kota BSJZ (akronim dari Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang).


Daripada daerah lainnya, seperti Guangdong, BSJZ mencetak prestasi teratas dalam ketiga bidang: membaca, matematika, dan sains. Hasil tes sebelumnya yang memasukkan daerah Guangdong pada tahun 2015 hanya menempatkan Tiongkok pada posisi ke 10.


Kali ini nilai provinsi Zhejiang lebih tinggi Guangdong dengan perbedaan skor yang begitu mencolok. Selisih ini pun menimbulkan kecurigaan, apalagi Guangdong kali ini tidak diajukan untuk pengetesan melainkan provinsi Zhejiang.


Kritik pun muncul dari Tom Loveless, seorang pakar tentang prestasi siswa, ujian, kebijakan pendidikan, dan reformasi sekolah K-12 telah dibahas dalam artikelnya di Washington Post.

Ditemukan suatu kejanggalan bahwa Tiongkok mengubah provinsi yang berpartisipasi dalam PISA, yaitu dari kelompok BSJG pada 2015 menjadi BSJZ pada 2018.


Pada tahun 2015 Tiongkok menempati peringkat ke 10 dalam tes PISA. Kali ini BSJZ menungguli ribuan daerah di 79 negara di seluruh dunia dalam tes matematika, membaca, dan sains setiap tiga tahun tersebut.


Jika kali ini Tiongkok menduduki peringkat pertama tes PISA, maka pertanyaannya adalah seberapa tangguh pendidikan di Tiongkok ? Mungkinkah pendidikan kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Zhejiang, Jiangsu, Guangzhou, plus Macao dan Hongkong dapat dibandingkan dengan daerah seperti Yunnan, Xinjiang, Guangxi, atau Mongolia Dalam?

Tentu jawabannya seperti membandingkan kualitas pendidikan di Jakarta, Yogyakarta, Bali dengan daerah lain yang fasilitas pendidikannya kurang memadai di Indonesia.


Harus diketahui bahwa Tiongkok merupakan negara berkembang, namun juga terdapat banyak kota yang sudah sangat maju. Artinya distribusi sumber daya pendidikan tidak merata di Tiongkok.


Selain itu karena jumlah penduduk, sumber daya pendidikan tampaknya juga tidak memadai, termasuk jumlah universitas. Maka dari itu kompetisi yang sengit, terutama di sekolah menengah sudah terbentuk dan terbiasa sejak lama.


Di sekolah menengah, kehidupan sehari-hari para siswa pada dasarnya seperti robot. Kehidupan sehari-hari mereka dapat dibagi menjadi 3 kegiatan utama, yaitu tidur, makan, dan belajar. Tentu belajar dan mengerjakan PR menempati porsi waktu yang paling lama. Para siswa di Tiongkok merasa malu karena ketinggalan satu detik untuk belajar.


Banyak dari mereka makan di kantin sambil belajar. Kegiatan belajar mereka rata-rata dimulai jam 7 pagi dan berakhir pada jam 10:00 malam. Sebagian siswa tinggal di asrama sekolah, sebagian siswa memilih untuk tinggal di luar sekolah. Orang tua mereka rela mengeluarkan sekitar 2.000 RMB (sekitar 4 juta rupiah) atau lebih per bulan untuk menyewa satu kamar di apartemen dekat sekolahnya.


Hari libur dibatasi hanya 1-2 hari per bulan, karena itu banyak siswa tidak memiliki akhir pekan untuk bermain. Pada dasarnya sekolah memaksa siswa untuk berkompetisi. Ulangan mingguan atau bulanan sudah menjadi biasa. Setelah setiap ulangan dilakukan, skor dan peringkat siswa akan ditempel di dinding lorong kelas. Jadi semua guru, siswa, dan orang tua pun tahu bagaimana perkembangan nilai murid.


Sistem seperti ini menyebabkan masalah mental siswa. Tidak sedikit siswa stres, depresi, hingga bunuh diri. Bicara tentang data siswa yang bunuh diri, Tiongkok lebih tertutup daripada Jepang dan Korea. Meskipun demikian, ketiga negara ini memiliki jejak rekor bunuh diri yang tinggi di kalangan siswa menengah.


Jam pelajaran yang pajang, guru yang memaksa mereka menghafal, dan segudang peraturan ketat lainnya sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi para murid. Terkait kota ataupun negara dengan waktu telama yang dihabiskan untuk mengerjakan PR lagi lagi ditempati oleh Shanghai, Tiongkok di urutan pertama, yaitu 13,8 jam per minggu.


Kompetisi yang paling sengit di antara sekian banyak kompetisi di sekolah adalah ujian masuk perguruan tinggi atau dikenal dengan istilah Gao Kao. Ambil contoh penerimaan di Universitas Tsinghua pada tahun 2016.


Tingkat penerimaan Universitas Tsinghua di 31 provinsi kebanyakan di bawah 0,07% dan di bawah 0,02% untuk 2 provinsi terbawah (Guangdong dan Guizhou).


Saingan Tsinghua, yaitu Universitas Peking, juga memiliki tingkat penerimaan yang sama. Ambil contoh jika kita tinggal di provinsi dengan peserta UN 7,3 juta sedangkan kuotanya 132 kursi, maka peluang kita hanya 0,018% saja.


Bagi kebanyakan orang Tiongkok, kenangan tentang sekolah menengah tetap tak akan terlupakan selama hidup mereka. Oleh karena itu, banyak film atau drama seri yang menggambarkan pahit manisnya saat belajar di sekolah tingkat menengah.


Tes PISA kali ini, yang menempatkan Tiongkok pada peringkat pertama, mencerminkan kualitas pendidikan yang ideal ataupun tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pada kenyatannya, mereka memiliki sistem pendidikan yang ketat dan keras sejak lama.