Ambisi dan Kesenjangan Pendidikan di Tiongkok

Updated: Apr 29

Oleh : Hendy Yuniarto


Ilustrasi


Hasil tes PISA tahun 2018 cukup mengejutkan bagi pemerhati pendidikan, termasuk beberapa media yang mengulas hasil performa akademis anak-anak di seluruh dunia dengan bermacam-macam ulasan serta reaksi. Salah satu reaksi mengejutkan ditujukan pada hasil tes Tiongkok yang menduduki peringkat pertama dengan skor tertinggi pada kota BSJZ (akronim dari Beijing-Shanghai-Jiangsu-Zhejiang). Daripada daerah lainnya seperti Guangdong, BSJZ mencetak prestasi teratas dalam ketiga bidang, yaitu membaca, matematika, dan sains. Hasil tes sebelumnya yang memasukkan daerah Guangdong pada tahun 2015 hanya menempatkan Tiongkok pada posisi ke 10.


Kali ini nilai provinsi Zhejiang lebih tinggi Guangdong dengan perbedaan skor yang begitu mencolok. Selisih ini pun menimbulkan kecurigaan, apalagi Guangdong kali ini tidak diajukan untuk pengetesan melainkan provinsi Zhejiang. Kritik pun muncul dari Tom Loveless, seorang pakar prestasi siswa, ujian, kebijakan pendidikan, dan reformasi sekolah K-12 dalam artikelnya di Washington Post. Ia menemukan suatu kejanggalan bahwa Tiongkok mengubah provinsi yang berpartisipasi dalam PISA, yaitu dari kelompok BSJG (Beijing-Shanghai-Jiangsu-Guangong) pada 2015 menjadi BSJZ pada 2018.


Pada tahun 2015 Tiongkok menempati peringkat ke 10 dalam tes PISA. Kali ini BSJZ menungguli ribuan daerah di 79 negara di seluruh dunia dalam tes matematika, membaca, dan sains setiap tiga tahun tersebut. Jika kali ini Tiongkok menduduki peringkat pertama tes PISA, maka pertanyaannya adalah seberapa tangguh pendidikan di Tiongkok ? Mungkinkah pendidikan kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Zhejiang, Jiangsu, Guangzhou, plus Macao dan Hongkong dapat dibandingkan dengan daerah seperti Yunnan, Xinjiang, Guangxi, atau Mongolia Dalam? tentu jawabannya seperti membandingkan kualitas pendidikan di Jakarta, Yogyakarta, Bali dengan daerah lain yang fasilitas pendidikannya kurang memadai di Indonesia.


Meskipun Tiongkok belum beranjak dari statusnya sebagai negara berkembang ke negara maju, namun terdapat puluhan kota yang sudah sangat maju dengan fasilitas pendidikannya yang berkelas internasional. Artinya distribusi sumber daya pendidikannya belum merata, apalagi secara geografis banyak pegunungan dengan daerah terpencil yang membuat fasilitas pendidikan terbatas. Selain itu karena jumlah penduduk, sumber daya pendidikan tampaknya juga tidak memadai untuk semua anak, termasuk jumlah universitas. Maka dari itu kompetisi di dunia pendidikan yang ketat, terutama di sekolah menengah sudah terbentuk dan terbiasa sejak lama. Kompetisi ini tercermin pada pendidikan yang berorientasi ujian yang mana merupakan salah satu inti penting dalam dunia pendidikannya.

Bagi masyarakat Tiongkok keberadaan sistem pendidikan berorientasi ujian bukanlah hal mengejutkan. Sistem tersebut telah berakar dari sejarah Tiongkok yang panjang. Pada dinasti Sui (581-618 M), kaisar Suiyang mengajukan inisiatif sistem ujian kenegaraan, tetapi belum terbentuk matang sampai dinasti Tang (618-907 M). Sistem ini mengubah sistem lama di Tiongkok yang menilai dan menentukan kemampuan dan pangkat seorang berdasarkan pada status keluarga dan latar belakangnya. Hal ini mengakibatkan banyak anak berbakat tidak mempunyai akses untuk mempertunjukkan kecerdasan dan keterampilan mereka, apalagi mencapai cita-cita mereka. Sistem ujian kenegaraanlah yang memberi kesempatan kepada mereka para pelajar berkompetisi dalam ujian yang adil, tanpa adanya KKN oleh para pejabat daerah. Jika seseorang meraih nilai yang bagus dalam hasil ujian maka langsung ditempatkan oleh kaisar ke posisi sesuai kemampuannya.


Sistem ujian kenegaraan tersebut dipertahankan sampai tahun 1905, lebih dari 1300 tahun setelah diberlakukan. Namun sistem ujian tersebut tidak pernah dihilangkan begitu saja dari sitem pendidikan Tiongkok. Kini ujian yang paling bergengsi adalah ujian masuk perguruan tinggi dan ujian masuk PNS. Selain daripada dua ujian besar tersebut, masih ada ratusan ujian kecil dalam proses belajar sehari-hari. Sistem ujian dianggap dapat menilai kamampuan seorang secara lebih objektif dan adil agar setiap orang bisa memperoleh peluang untuk membuktikan dirinya, tetapi sistem ini pun mendatangkan dampak negatif yang seringkali disorot oleh masyarakat dan berbagai media, menjadi topik kontroversial tak berkesudahan.


Tidak sedikit yang menganggap bahwa para siswa tidak bisa mengembangan kreativitas karena karena pelajaran atau mata kuliah eksakta cenderung lebih diperhatikan daripada ilmu sosial dan seni. Banyak yang percaya bahwa pelajaran tersebut tidak begitu memengaruhi siswa untuk naik kelas atau masuk universitas yang terkenal. Sementara kebanyakan guru hanya mengajar yang tertulis dalam kurikulum dan berkaitan dengan ujian, maka kemampuan belajar dan berpikir para siswa dalam berpikir kritis, analitis, ataupun kemampuan berbeda tidak berkembang. Selain itu juga siswa seringkali kehilangan minatnya untuk menjelajahi ilmu-ilmu lain karena mereka menerima materi yang tetap dari tahun ke tahun serta mempelajari jawaban atas pertanyaan yang standar. Lama-kelamaan mereka terlihat seperti mesin belajar otomatis sementara menunggu guru yang mengetahui semua ilmu menyuapi dan memberikan perintah. Dengan demikian setiap orang menjadi terlihat memiliki kemampuan yang sama. Mereka pun merasa takut untuk mengambil resiko untuk mengubah keadaan atau berpikir out of the box. Mereka cenderung memilih jalan aman meskipun harus bersaing dengan super ketat.


Pendidikan berorientasi ujian ini memang tidak baik untuk perkembangan siswa dalam berpikir kreatif. Sistem pendidikan tersebut belum mewujudkan keadilan pendidikan, namun tidak mungkin begitu saja dihilangkan karena ujian adalah ajang pembuktian siswa dari keluarga kelas bawah dan menengah untuk mengubah taraf kehidupan dan status sosial di masa depan dengan cepat. Meskipun ujian bukan satu-satunya cara yang terbaik untuk mengukur kemampuan siswa, tetapi bagaimana menentukan standar semua guru, juga ditambah dengan kualitas atau prestasi seni dan budaya, bagaimana caranya menilai supaya semua dapat diakui dengan adil ? kalau keadilan dalam menentukan standar pendidikan tidak tercapai maka berakibat pada ketidakpuasan dan kemarahan masyarakat.


Adanya kesenjangan pendidikan di Tingkok adalah penyebab bahwa Tiongkok belum menjalankan pendidikan berorientasi kualitas yang menyeluruh. Fakta populasi besar tidak terelakkan dan sumber pendidikan yang terbatas, terutama pendidikan tinggi. Dalam situasi ini masyarakat sungguh-sungguh mementingkan keadilan menilai. Dalam perjalanan pendidikan, seorang siswa Tiongkok sungguh menghadapi kesulitan yang luar biasa tidak dapat dibayangkan.


Di sekolah menengah, kehidupan sehari-hari para siswa pada dasarnya seperti robot dengan tugas kerja yang monoton. Kehidupan sehari-hari mereka dapat dibagi menjadi 3 kegiatan utama, yaitu tidur, makan, dan belajar. Tentu belajar dan mengerjakan PR menempati porsi waktu yang paling lama. Para siswa di Tiongkok merasa malu karena ketinggalan satu detik untuk belajar. Banyak dari mereka makan di kantin sambil belajar. Kegiatan belajar mereka rata-rata dimulai jam 7 pagi dan berakhir pada jam 10 malam. Sebagian siswa tinggal di asrama sekolah, sebagian siswa memilih untuk tinggal di luar sekolah. Orang tua mereka rela mengeluarkan sekitar 2.000 yuan atau lebih per bulan untuk menyewa satu kamar di apartemen dekat sekolahnya.


Hari libur dibatasi hanya 1-2 hari per bulan, karena itu banyak siswa tidak memiliki akhir pekan untuk bermain. Pada dasarnya sekolah memaksa siswa untuk berkompetisi. Ulangan mingguan atau bulanan sudah menjadi biasa. Setelah setiap ulangan dilakukan, skor dan peringkat siswa akan ditempel di dinding lorong kelas. Jadi semua guru, siswa, dan orang tua pun tahu bagaimana perkembangan nilai murid. 


Selalu ada cerita yang menarik namun seringkali menyayat hati tentang bagaimana kerasnya sistem pendidikan di Tiongkok. Kompetisi selalu menjadi kata kuncinya, dan mereka sudah mulai semenjak sebelum TK !. Jangan kaget dengan anak berumur 4 tahun yang sudah menghafal 5 puisi kuno Tiongkok. Apakah anak itu dengan rela melakoni hal tersebut pastinya tidak sama sekali. Orang tuanya dan jutaan orang tua yang lainnya memiliki ambisi setinggi langit. Hali ini sangat jamak dan sangat dibanggakan oleh jutaan orang tua di Tiongkok.


Setiap orang tua akan membanggakan anaknya: “Anak kami juga pandai menyanyi, bahasa Inggris, kaligrafi, berenang,” sambil mempertunjukkan hasil karya dan prestasi anaknya. Seorang anak TK yang sudah memiliki banyak piagam dan sertifikat bukan lagi menjadi pemandangan aneh. Anak itu hanya salah satu anak yang biasa dari jutaan anak lainnya. Di berbagai toko buku di Tiongkok kita akan tidak susah untuk dapat bermacam-macam buku bacaan bahasa Inggris, juga buku latihan soal matematika hingga buku pembelajaran pemrograman komputer.


Setiap orang tua akan bersikukuh berpendapat bahwa kalau ingin masuk SD berkelas maka harus membuktikan bahwa anaknya juga berkualitas, yang dibuktikan dengan deretan piagam dan sertifikat. Banyak dari orang tua yang menginginkan anaknya memiliki kenangan masa kecil yang indah, namun kekhawatiran tertinggal dalam kompetisi pendidikan menjadikan mereka tak punya banyak pilihan selain memaksa anaknya untuk belajar berbagai macam keterampilan dan ikut dalam setiap kompetisi yang diadakan. Mereka lebih takut anaknya tidak mendapatkan masa depan yang cemerlang karena mereka sadar bahwa lowongan kerja yang ditawarkan semakin tak seimbang dengan jumlah pencari kerja.


Keluarga yang mempunyai kecemasan tersebut sebenanrya sudah termasuk keluarga golongan berpendapatan menengah yang jumlahnya ratusan juta, meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Namun kecemasan tersebut tentu tidak dialami golongan berpendapatan rendah atau masyarakat yang tinggal di pedesaan, jauh dari kecukupan fasilitas di kota besar. Banyak kesulitan serta hambatan yang dihadapi keluarga tersebut untuk memberikan anaknya pendidikan berkualitas dan kompetitif. Menyelesaikan kebijakan wajib belajar 9 Tahun mungkin sudah dianggap cukup dan tak ada pilihan lain kecuali bekerja.


Sistem seperti ini menyebabkan masalah mental pada siswa. Tidak sedikit siswa stres, depresi, hingga bunuh diri. Tentang jumlah siswa yang bunuh diri dari tahun ke tahun, Tiongkok memang lebih tertutup daripada Jepang dan Korea. Meskipun demikian, ketiga negara ini memiliki jejak rekor bunuh diri yang tinggi di kalangan siswa menengah. Jam pelajaran yang panjang, guru yang memaksa mereka menghafal, dan segudang peraturan ketat lainnya sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi para murid. Kota Shanghai menempati urutan pertama pada kota dengan waktu terlama yang dihabiskan untuk mengerjakan PR, yaitu 13,8 jam per minggu.


Kompetisi yang paling sengit di antara sekian banyak kompetisi di sekolah adalah ujian masuk perguruan tinggi atau dikenal dengan istilah Gao Kao. Mereka mempersiapkan Gao Kao ini sejak dari tahun kedua di bangku SMA. Untuk memberikan gambaran betapa sengitnya kompetisi maka kita bisa mengambil contoh penerimaan di Universitas Tsinghua pada tahun 2016. Universitas Tsinghua merupakan universitas yang seringkali menempati peringkat pertama nasional dan peringkat 17 berdasarkan World University Ranking tahun 2019. Tingkat penerimaan Universitas Tsinghua di 31 provinsi kebanyakan di bawah 0,07% dan di bawah 0,02% untuk 2 provinsi terbawah (Guangdong dan Guizhou). Saingan Tsinghua, yaitu Universitas Peking, juga memiliki tingkat penerimaan yang sama. Ambil contoh jika kita tinggal di provinsi dengan peserta Ujian Nasional 7,3 juta sedangkan kuotanya 132 kursi, maka peluang kita hanya 0,018% saja.


Di negara sebesar Tiongkok yang jumlah penduduknya mencapai 1.4 milyar tentu tidak mudah mengatasi masalah pendidikan. Pemerintah mengangap masalah pendidikan sebagai masalah utama yang harus diperbaiki. Masyarakat akan selalu melihat bagaimana pendidikan dasar diselenggarakan, terutama pendidikan dasar di desa terpencil. Dengan perkembangan infrastruktur dan teknologi yang semakin maju, situasi pendidikan dasar sudah banyak diperbaiki, misalnya melalui program Flipped Class Model yang telah memungkinkan anak-anak di pelosok bisa mendapatkan akses pembelajaran sesuai dengan kurikulum.


Meskipun fasilitas dan sumber daya guru sudah jauh lebih baik daripada yang lalu, tetapi masih ada banyak anak memilih putus sekolah sesudah pendidikan dasar. Salah satu alasannya adalah pendidikan kejuruan yang ditawarkan masih kurang. Di lain pihak dibutuhkan dana yang tak sedikit bagi suatu keluarga untuk memasukkan anaknya ke perguruan tinggi. Usaha pemerintah Tiongkok yang utama adalah mempromosikan pendidikan menengah kejuruan yang bertujuan membekali siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dengan keterampilan agar siap bekerja. Semua itu dilakukan karena sumber daya pendidikan tinggi terbatas, jumlah universitas terbatas, dan kuota siswa yang bisa masuk universitas juga sangat terbatas.


Pada beberapa tahun terakhir ini pendidikan kejuruan di Tiongkok memang berkembang pesat. Namun ada anggapan bahwa hanya anak yang bodoh perlu pendidikan kejuruan. Tidak sedikit orang yang tua juga masih beranggapan miring terhadap pendidikan kejuruan. Sebenarnya pendidikan kejuruan memiliki banyak kelebihan, bukan hanya untuk pendidikan menengah saja, namun menyiapkan ke dunia kerja dan juga bisa digunakan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi.


Bagi kebanyakan orang Tiongkok, proses perjalanan pendidikan merupakan fase yang sangat penting dan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan selama hidup mereka. Oleh karena itu, banyak film atau drama seri yang menggambarkan pahit manisnya saat belajar di sekolah tingkat menengah. Tema-tema kasih tak sampai mendominasi dalam film-film berlatar SMA. Dalam kebanyakan film tersebut kemampuan akademis lebih penting daripada janji-janji romantis. Kenyataan tersebut memang sesuai dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat Tiongkok.


Tes PISA yang pernah menempatkan Tiongkok pada peringkat pertama mencerminkan kualitas pendidikan yang ideal ataupun tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pada kenyatannya, mereka memiliki sistem pendidikan yang ketat dan keras sejak lama. Ujian adalah satu jalan penting bagi siswa di Tiongkok sebagai ajang pembuktian dan ambisi. Meskipun demikian masih ada banyak siswa yang tak bisa menyalurkan ambisinya karena kesenjangan pendidikan masih menjadi permasalahan bagi negara berpenduduk 1,4 milyar ini.


#PendidikandiTiongkok #PendidikandiChina #Chineseeducation #Pendidikan #Tiongkok #China #Cina #PISA #Kualitaspendidikanchina #Artikelchina #Esaichina


0 views